Breaking News:

Kata Analis Soal Penyebab Jebloknya Kinerja 2020 dan Prospek Saham Bank BUMN di 2021

Anjloknya laba bersih ketiga bank BUMN itu dipicu membengkaknya biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atau provisi.

Warta Kota/Alex Suban
ILUSTRASI. Anjloknya laba bersih bank BUMN di tahun 2020 dipicu membengkaknya biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atau provisi. (Warta Kota/Alex Suban) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tak bisa dipungkiri, Pandemi covid-19 yang masih terus terjadi membuat sejumlah industri di sektor jasa keuangan di Tanah Air terpuruk.

Industri perbankan pun terdampak.

Sejak wabah Covid-19 masuk ke Nusantara pada Maret 2020, industri perbankan sulit untuk menggenjot kinerjanya.

Alhasil, di tahun lalu, kinerja sejumlah bank mencetak rapor merah.

Baca juga: Himbara Salurkan Dana Pemulihan Ekonomi Nasional Rp 192,24 Triliun ke 28,91 Juta Penerima

Kondisi itu tercermin dalam laporan keuangan tahunan yang dirilis sejumlah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Di antaranya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (Mandiri).

Pada tahun 2020, laba bersih ketiga bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tersebut, merosot dibandingkan tahun sebelumnya.

Anjloknya laba bersih ketiga bank BUMN itu dipicu membengkaknya biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atau provisi.

Baca juga: Wamen BUMN: Realisasi Restrukturisasi Kredit Bank Himbara Paling Masif Sebesar RP490 Triliun

Suria Dharma, Kepala Riset Samuel Sekuritas mengatakan, melonjaknya biaya provisi disebabkan adanya upaya dari bank untuk mengantisipasi munculnya kredit macet karena tekanan pandemi.

Halaman
1234
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved