Tumbuh Ekonomi dengan Literasi, Unit Pegadaian Keliling Hadir Melayani
Unit Pegadaian Keliling hadir di tengah masyarakat, tujuannya tidak hanya memudahkan pelayanan, tetapi juga untuk menyebarluaskan literasi keuangan.
Kemudahan itu dirasakan oleh Indah (bukan nama sebenarnya, 41), warga Sukodono, Sragen. Ia terbantu dengan adanya Unit Pegadaian Keliling yang ia jumpai di Pasar Sukodono, Sragen karena bisa memangkas waktu, uang, dan tenaga.
Untuk diketahui, Pasar Sukodono berjarak 16 kilometer ke outlet Pegadaian Sragen dengan waktu tempuh sekitar 25 menit jika menggunakan kendaraan roda dua. Bagi Indah yang bekerja di salah satu dinas pemerintahan ditambah dengan usaha di rumah, waktu adalah hal yang berharga.
“Sangat bermanfaat bagi saya karena saya hemat waktu, biaya, dan tenaga. Bagi saya itu membantu dan menguntungkan,” terang Indah soal manfaat UPK dalam hal pelayanan.
“Kalau bisa, (UPK) ada terus supaya bisa meringankan kalau butuh uang mau ke Pegadaian tidak perlu jauh-jauh. Kita sebagai masyarakat desa biar enak dan terjangkau karena keuntungan waktu dan tenaga,” tambahnya.
Untuk saat ini, UPK memang belum bisa menetap di satu daerah tertentu dalam jangka waktu yang lama karena masih penyesuaian dengan daerah lainnya. Tapi dengan kondisi ini, Pegadaian bisa mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dari masyarakat.
“Ketika nanti mobil-mobil keliling ini tidak ada berarti kita harus mencetak agen Pegadaian di wilayah tersebut. Agen ini akan menginduk ke Pegadaian Sragen atau induk lainnya. Masyarakat bisa transaksi ke agen tersebut sebagai kepanjangan tangan dari outline Pegadaian,” jelas Bambang menawarkan Solusi.
Dengan unit keliling, Pegadaian sejatinya tidak hanya memfasilitasi dan memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga untuk menyebarluaskan literasi keuangan karena bisa berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.
Contohnya, untuk pengusaha yang sedang mengembangkan usahanya tetapi belum bankable dan membutuhkan modal, mereka bisa memanfaatkan KUR dari Pegadaian. Jika ingin menggunakan nominal yang lebih besar, bisa melalui KUPEDES.
“Kita ingin Masyarakat itu betul-betul bisa memanfaatkan produk Pegadaian. Sehingga kita berharap pelaku usaha tersebut bisa memutar modal kerja, mengaplikasikan dalam usahanya untuk lebih berkembang. Setelah berkembang kita akan edukasi terkait investasi atau tabungan emas,” jelas Bambang.
“Jadi, agar masyarakat itu dalam sebuah lingkungan ‘melek’ keuangan. Emas terkenal untuk melindungi nilai uang. Jadi untuk modal tersebut terus berputar. Misalnya nanti dibutuhkan dalam keadaan genting bisa dikonversikan menjadi rupiah lagi,” jelasnya.
Endang, seorang warga Kecamatan Sukodono, Sragen belum lama ini tertarik dengan investasi dan tabungan emas saat mengikuti kegiatan jalan sehat dalam rangka hari guru yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Sragen yang bekerja sama dengan Pegadaian.
Perempuan berusia 55 tahun bukan seorang pengusaha, kesehariannya bekerja sebagai tenaga didik di salah satu sekolahan di daerah tersebut.
Endang kepincut membuka Tabungan Emas setelah mendapatkan literasi keuangan dari petugas Pegadaian yang ketika itu datang menggunakan unit keliling. Ia ingin menyisihkan uangnya supaya nanti setelah pensiun memiliki tabungan. Bahkan jika punya rezeki lebih, Endang ingin menabung untuk biaya umroh.
“Ia mas, buat tabungan kalau kita sudah pensiun agar ada celengannya. Walaupun hanya kecil-kecilan. InsyaAllah nanti lain waktu bisa berlanjut untuk yang umroh,” harap Endang.
Misi Mulia dengan Literasi
Berbicara tentang misi Unit Pegadaian Keliling yang ingin membangun literasi keuangan masyarakat, penting rasanya untuk berharap pada pertumbuhan ekonomi di masa depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pegadaian-di-Tengah-Denyut-Nadi-Pasar-Sukodono_20250927_142850.jpg)