Tumbuh Ekonomi dengan Literasi, Unit Pegadaian Keliling Hadir Melayani
Unit Pegadaian Keliling hadir di tengah masyarakat, tujuannya tidak hanya memudahkan pelayanan, tetapi juga untuk menyebarluaskan literasi keuangan.
Literasi dengan pertumbuhan ekonomi bukan hanya teori, tetapi hal yang sudah dibuktikan secara empiris. Hubungan ini bersifat timbal balik dan kumulatif, itu artinya saling menguatkan seperti siklus virtous.
Dengan literasi keuangan dapat mengubah perilaku ekonomi seseorang, yang nantinya berdampak pada perekonomian lebih luas. Orang yang melek keuangan cenderung membuat anggaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menabung secara teratur.
Analogi sederhananya adalah, perekonomian seperti mesin. Uang adalah bahan bakarnya. Literasi keuangan adalah panduan manual dan skill sang sopir. Tanpa panduan manual dan skill seorang sopir, bahan bakar bisa terbuang percuma. Dalam konteks ini membuat apa yang dikonsumsi masyarakat menjadi tidak produktif.
Mesin bisa rusak karena perawatan yang salah. Hal ini akan menimbulkan krisis keuangan pribadi.
Ada juga yang mengakibatkan mobil tidak bisa mencapai tujuan dengan cepat, itu artinya pertumbuhan ekonomi bergerak dengan lambat.
Jika seorang sopir dapat memaksimalkan panduan manual dengan baik, maka bahan bakar bisa digunakan secara efisien untuk mencapai tujuan sejauh mungkin. Mesin yang terawat dan jarang rusak dalam ekonomi bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi lebih optimal dan stabilitas sistem keuangan.
Jadi, literasi keuangan bukan hanya tentang kemampuan individu mengelola uang, tetapi merupakan infrastruktur lunak yang vital bagi pertumbuhan ekonomi. Ia dapat menciptakan masyarakat yang lebih produktif dan mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan ekonomi.
Peraih Nobel 2018 dan 1995, Paul Polmer dan Robert Lucas mengungkapkan dalam Teori Pertumbuhan Endogen, pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh faktor-faktor dalam sistem ekonomi itu sendiri, di antaranya pengetahuan, inovasi, dan modal manusia.
Dalam hal ini, Pegadaian dengan inovasinya berupa Unit Pegadaian Keliling. Petugas yang bertanggung jawab akan memberikan informasi soal literasi keuangan kepada masyarakat itu sendiri.
“Individu yang melek finansial akan mengalokasikan tabungannya ke investasi yang lebih produktif. Pengusaha yang melek finansial akan mengelola modal usahanya dengan lebih efisien,” dalam teori dua raksasa ekonom dari Amerika Serikat itu.
Perilaku ini disebut dengan ‘total factor productivity’ yang merupakan mesin utama dalam teori pertumbuhan endogen. Prosesnya bersifat kumulatif karena pengetahuan (literasi) menyebar dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Bambang menyadari, program ini tidak bisa berdampak instan karena butuh kontinuitas untuk dapat mendampingi masyarakat secara berkala. Oleh sebab itu, pelayanan Unit Pegadaian Keliling diharapkan memiliki jadwal yang terencana berdasarkan hasil laporan petugas di lapangan, sehingga dapat menjalankan program tersebut dengan maksimal.
“Tentunya tidak bisa instan, artinya memang by process, minimal yang sudah dan harus dilakukan petugas mobil keliling ini memberikan edukasi keuangan ke masyarakat,” ungkap Bambang.
“Saya kira pelayanan keliling ini ke depannya bisa dijadwal untuk cabang-cabang ataupun outlet-outlet yang jauh dari outlet Pegadaian daerah.”
Pria asli Solo itu berharap, Pegadaian dengan program Unit Keliling ini dapat menyebarluaskan literasi keuangan ke berbagai lini masyarakat di berbagai daerah yang sulit dijangkau. Tujuannya untuk menyelaraskan dengan program pemerintah tentang mengEmaskan Indonesia di masa mendatang.
“Tugas kami harus meliterasi masyarakat tentang keuangan, tentang investasi. Jadi ketika masyarakat itu semuanya sudah paham tentang fungsi dari investasi atau tabungan emas, mereka akan lebih fleksibel memanfaatkan asetnya untuk apapun. Tujuannya ke sana, mengEmaskan Indonesia,” tutupnya.
(Tribunnews.com/Sina)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pegadaian-di-Tengah-Denyut-Nadi-Pasar-Sukodono_20250927_142850.jpg)