Sabtu, 2 Mei 2026

CIO Danantara Janjikan Imbal Hasil Menarik bagi Investor Proyek Sampah Jadi Energi

Pada akhir tahun ini akan ada 10 proyek awal pengolahan sampah jadi energi yang mulai dijalankan di lima kota berbeda.

Tayang:
DANANTARA
PENGOLAHAN PROYEK SAMPAH- Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir. Danantara akan menggarap total 33 proyek WtE di berbagai daerah. 
Ringkasan Berita:
  • Proyek WtE digadang-gadang akan menjadi yang terbesar di dunia.
  • Danantara ingin menangani isu krisis lingkungan hidup secara komersial.
  •  Tarif 20 sen per kWh yang ditawarkan dinilai cukup menarik bagi investor.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menjanjikan para investor mendapatkan imbal hasil atau return yang menarik dari proyek pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE) yang tengah dikembangkan pihaknya.

Pandu mengungkapkan, proyek WtE ini digadang-gadang akan menjadi yang terbesar di dunia dalam kategori pengolahan sampah menjadi energi

Dia bilang, Danantara ingin menangani isu krisis lingkungan hidup secara komersial.

Baca juga: Danantara: Satu Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Butuh Dana Rp 3,3 Triliun

"Kami menyelesaikan isu terbesar secara komersial. Dulunya ada tipping fee di daerah, kami hilangkan. Kami pindahkan semua di sisi power purchase agreement yang sekarang menjadi 20 sen per kWh. Satu harga," kata Pandu dalam acara "1 Tahun Pemerintah Prabowo-Gibran: Optimism On 8 persen Economic Growth" di Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2025).

Danantara akan menggarap total 33 proyek WtE di berbagai daerah. Pada akhir tahun ini akan ada 10 proyek awal yang mulai dijalankan di lima kota berbeda.

Menurut Pandu, tarif 20 sen per kWh yang ditawarkan itu cukup menarik bagi investor.

Buktinya, dalam dua pekan terakhir, tercatat sudah ada 120 perusahaan dan konsorsium yang ikut serta dalam proses lelang untuk 10 proyek tersebut.

Pandu mengungkap sejumlah syarat kepada perusahaan maupun konsorsium yang ingin terlibat dalam proyek ini.

Mereka diminta menggunakan teknologi yang kompetitif, tetapi tetap ramah lingkungan.

Terkait skema kerja sama, Danantara bisa menjadi mitra minoritas yang kuat (strong minority partner) atau mitra mayoritas, tergantung kebutuhan yang ada.

"Kami ingin menyelesaikan masalah lingkungan yang sekarang sudah menjadi krisis di kota-kota besar di Indonesia," ucap Pandu. 
 
 
 
 
 
 
 

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved