Senin, 4 Mei 2026

Saham BBCA Makin Perkasa, Masih Layak Dikejar atau Tidak? Berikut Target Harga dari 3 Sekuritas

Jika melihat tren aksi serok investor asing di tengah penguatan selama empat hari berturut-turut tercatat mencapai Rp 2,17 triliun.

Tayang:
Tribunnews/Jeprima
PERGERAKAN IHSG - Pada perdagangan kemarin, 22 Oktober 2025, saham BBCA berakhir makin perkasa dengan penguatan 600 poin atau 7,62 persen ke posisi Rp8.475 per saham. 
Ringkasan Berita:
  • Pada penutupan perdagangan saham tanggal 14-15 Oktober 2025, saham BBCA berakhir di level Rp7.250 per saham.
  • Kemarin saham BBCA berakhir makin perkasa dengan penguatan 600 poin atau 7,62 persen ke posisi Rp8.475 per saham.
  • Manajemen BCA menyampaikan akan melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan anggaran Rp5 triliun.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) selama empat hari perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penguatan, hingga meninggalkan level Rp7.250 per saham secara singkat.

Tercatat, pada penutupan perdagangan saham tanggal 14-15 Oktober 2025, saham BBCA berakhir di level Rp7.250 per saham.

Kemudian, hari berikutnya saham BBCA mulai menguat hingga perdagangan kemarin.

Mengutip data Mandiri Sekuritas, pada 16 Oktober 2025 saham BBCA ditutup naik 0,69 persen ke level Rp7.300.

Baca juga: Prabowo Singgung IHSG Tembus Level 8.000: Tertinggi Sepanjang Sejarah, Ini di Luar Dugaan

Pada 17 Oktober 2025, kembali berakhir menguat hingga 200 poin atau 2,74 persen ke posisi Rp7.500.

Selanjutnya, pada akhir perdagangan 20 Oktober 2025 kembali ditutup naik 375 poin atau 5 persen ke level Rp7.875.

Kemudian, pada perdagangan kemarin, 22 Oktober 2025, saham BBCA berakhir makin perkasa dengan penguatan 600 poin atau 7,62 persen ke posisi Rp8.475 per saham.

Adapun, jika melihat tren aksi serok investor asing di tengah penguatan selama empat hari berturut-turut tercatat mencapai Rp 2,17 triliun.

Makin perkasanya saham BBCA, setelah manajemen BCA menyampaikan akan melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan anggaran Rp5 triliun.

Periode buyback berlangsung pada 22 Oktober 2025 sampai 19 Januari 2026. Harga maksimum dari pembelian saham kembali yaitu Rp9.200 per lembar saham.

Selain kabar aksi korporasi tersebut, kinerja BCA juga mengalami pertumbuhan positif. Hal ini dinilai menjadi katalis mendorong harga saham BBCA menguat.

Laba bersih konsolidasi BCA di periode sembilan bulan tahun ini, tembus Rp 43,4 triliun atau tumbuh 5,7 persen year on year (YoY).

Kenaikan laba bersih BCA ditopang oleh pendapatan usaha yang naik 6,9% YoY mencapai Rp 85,2 triliun. 

Pendapatan bunga BCA juga naik 5,2% YoY mencapai Rp 63,9 triliun. Sementara pendapatan non-bunga melonjak 12,4% YoY menjadi Rp 21,4 triliun hingga kuartal III-2025.

Salah satu yang disoroti analis terkait kinerja BBCA terbaru adalah posisi dana murah atau CASA yang tinggi sehingga membantu mendongkrak profitabilitas BBCA

Hal ini disampaikan analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi dalam laporan risetnya.

“Dana murah (CASA) terus menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan +9,1% YoY, mendorong rasio CASA mencapai 83,8%,” tulisnya dikutip dari Kontan, Rabu (22/10/2025).

Sementara itu, Prasetya tetap menyoroti biaya kredit (CoC) pada kuartal ini yang sedikit meningkat menjadi 0,6% dibandingkan. 0,5% pada kuartal II-2025. 

Namun, ia melihat ini merupakan langkah bank yang terus memperkuat pencadangan di tengah penurunan kualitas aset pada segmen kredit konsumsi dan otomotif.

Sementara analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi juga menggarisbawahi bahwa kinerja keuangan BBCA masih sesuai dengan pedoman yang disampaikan oleh manajemen terutama dari sisi penyaluran kredit.

Selain itu Akhmad juga memberikan apresiasi atas capaian BBCA yang mampu mempertahankan NIM di tengah kondisi biaya dana dan likuiditas perbankan saat ini.

Di sisi lain, Victor Stefano, analis BRIDanareksa Sekuritas, dalam riset terbarunya juga menyoroti fokus manajemen mengarahkan fokus pada ekspansi kredit, optimalisasi dana murah, serta penguatan pendapatan berbasis biaya dan kualitas aset guna menjaga profitabilitas di tengah kondisi suku bunga yang rendah.

Melihat kinerja keuangan BBCA yang positif di sepanjang tahun sampai September 2025, ketiga analis tersebut memprediksi bahwa bank dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di BEI tersebut dapat mengantongi laba bersih setidaknya Rp 57 triliun di tahun 2025.

Ketiganya juga memberikan rekomendasi beli atas saham BBCA

Samuel Sekuritas mematok target harga untuk BBCA di Rp 9.600.

Sedangkan KB Valbury Sekuritas memberikan target harga BCA di posisi Rp 11.080 dan BRIDanareksa Sekuritas mematok target harga di Rp 11.200 per saham

 

(Tribunnews/Kontan)

 

 

 

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved