Rabu, 6 Mei 2026

Tidak Ikut Proyek Waste to Energy Danantara, Toba Fokus Ekspansi Internasional

Bisnis pengelolaan limbah menjadi sebuah advantage sekaligus peluang bagi TBS membentuk platform pengolahan limbah regional di Asia Tenggara.

Tayang:
Penulis: Sanusi
Tribunnews/JEPRIMA
PENGOLAHAN SAMPAH - Ilustrasi. Pekerja menunjukkan bijih plastik hasil daur ulang sampah di lokasi pengolahan sampah mandiri, Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. 

Ringkasan Berita:
  • TOBA akan fokus memperluas peluang ekspansi ke pasar internasional.
  • Bisnis pengolahan limbah di pasar internasional Asia Tenggara memiliki potensi yang menarik.
  • TOBA sejatinya paling siap mengembangkan bisnis waste-to-energy.

 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Manajemen PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) mengatakan perusahaan akan fokus memperluas peluang ekspansi ke pasar internasional dan tidak memprioritaskan untuk ikut proyek waste-to-energy (WTE/listrik dari sampah) BPI Danantara.
 
Hal tersebut disampaikan manajemen TBS terkait minat perusahaan terhadap proyek strategis nasional tersebut, pada saat paparan kinerja kuartal III-2005, Selasa (28/10/2025).
 
"Inisiasi bisnis waste management TBS telah dimulai sejak 2018 dan menunjukkan hasil kinerja yang nyata, serta makin menjanjikan sejak kami ekspansi bisnis ke pasar Asia Tenggara di 2023, melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (“AMES”) dan terakhir CORA Environment di 2025,"ujar SVP Corporate Finance and Investor Relations PT TBS Energi Utama Tbk Mirza Rinaldy Hippy, Rabu (29/10/2025).

Baca juga: Danantara: Satu Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Butuh Dana Rp 3,3 Triliun

Kemajuan bisnis pengelolaan limbah ini menjadi sebuah advantage sekaligus peluang bagi TBS untuk membentuk platform pengolahan limbah regional di Asia Tenggara melalui ekspansi ke pasar internasional.

Bisnis pengolahan limbah di pasar internasional Asia Tenggara memiliki potensi yang menarik sehingga keikutsertaan dalam proyek waste-to-energy yang dijalankan oleh Danantara tidak menjadi prioritas bagi TBS. Saat ini TBS sedang menjajaki peluang investasi dan akuisisi bisnis hijau di pasar regional, seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand.”

“Selain akuisisi, perseroan juga aktif melakukan ekspansi organik melalui investasi belanja modal untuk penambahan kapasitas pengelolaan dan penambahan fasilitas daur ulang di Singapura. Aspirasi menjadi pemain global ini menegaskan transformasi bisnis kami untuk menjadi perusahaan yang sepenuhnya fokus pada bisnis hijau dan energi bersih yang berdampak dan berkelanjutan, sekaligus diharapkan dapat membawa nama Indonesia di kancah internasional di bidang energi terbarukan,” tambah Mirza.

Cora Environment adalah anak usaha TOBA yang dipersiapkan sebagai salah satu jangkar bisnis setelah perusahaan meninggalkan sepenuhnya bisnis batubara pada 2030 mendatang. Entitas ini sebelumnya bernama SembWaste dan Sembcorp Environment, yang diakuisisi TOBA pada awal tahun ini.

Sembcorp Environment Pte Ltd merupakan perusahaan regional Asia Tenggara, berbasis di Singapura, yang fokus pada bisnis ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah. Sebagai pemain di bisnis pengolahan limbah di tingkat regional, TOBA sejatinya paling siap mengembangkan bisnis waste-to-energy.


 
Sebelumnya Danantara menyatakan lebih dari 120 perusahaan yang tertarik untuk ikut tender waste to energy dalam bentuk Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Pada tahap awal akan terdapat 10 PSEL di sepuluh kota di Indonesia. Proyek ini rencananya akan diluncurkan pada akhir tahun ini.
 
Pernyataan manajemen TOBA tersebut juga meluruskan berbagai rumor yang beredar selama ini TOBA akan diuntungkan dalam proyek WTE Danantara. Rumor ini berkembang karena salah satu petinggi Danantara adalah Pandu Sjahrir yang menjabat sebagai Chief Investment Officer. Pandu sebelumnya adalah Wakil Direktur Utama TOBA yang kemudian mengundurkan diri karena fokus mengurus Danantara.

Mirza menyatakan sejalan dengan roadmap TBS2030, Perusahaan akan terus memperkuat kapabilitas pengelolaan limbah terpadu dan terus mengkaji peluang-peluang yang sejalan dengan aspirasi Perusahaan menuju bisnis yang bersih, berdampak, dan berkelanjutan.

Analis mengapresiasi keputusan TOBA yang memilih jalan sendiri dalam pengembangan proyek energi hijau berbasis limbah, kendati secara kapabilitas dan kapasitas sangat layak mengikuti tender Danantara.

‘Ketidakikutsertaan TBS dalam tender proyek WTE Danantara merupakan bentuk kedisiplinan good governance yang dapat menganulir terbentuknya persepsi conflict of interest mengingat eks-wadirut sekarang menjabat CIO Danantara. Ini sesuatu yang positif karena menunjukkan keteladanan,’’ kata analis Mirae Sekuritas, Farras Farhan.

Farras menilai keputusan TBS untuk tidak mengikuti tender Danantara bukan berarti mengurangi minat perusahaan di sektor waste-to-energy. Justru, langkah ini menunjukkan fokus strategis TBS untuk memperkuat portofolio bisnis yang sudah matang.

“Cora Environment sudah melewati tahap pembentukan model bisnis dan integrasi teknologi pengelolaan limbah. Dengan rekam jejaknya yang berasal dari SembWaste dan Sembcorp Environment, Cora sudah punya pengalaman operasional regional. Jadi masuk akal bila TBS memilih fokus ekspansi ke negara-negara yang lebih siap secara regulasi dan infrastruktur,” ujarnya.
 
Farras menambahkan bahwa pendekatan TBS melalui Cora Environment memperlihatkan arah jangka panjang menuju bisnis rendah karbon. “Waste-to-energy (WTE) hanyalah satu komponen dari ekosistem pengelolaan sampah modern. TBS tampaknya ingin menjadi pemain besar di seluruh rantai nilai, mulai dari pengumpulan, sorting, recycling, hingga energi terbarukan berbasis limbah,” katanya.
 
Bisnis masa depan TOBA terus menunjukkan peningkatan kinerja. Hingga September 2025, segmen pengelolaan limbah menghasilkan pendapatan US$111,92 juta menyumbang sekitar 39 persen dari total pendapatan konsolidasi, serta 88 persen dari adjusted EBITDA. Dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ), porsi bisnis WTE juga tercatat lebih tinggi.
 
"Hal tersebut menegaskan bahwa bisnis waste management TOBA on the right track menjadi motor utama pertumbuhan baru. Market juga menunggu kontribusi dari EV dan energi terbarukan karena tergolong bisnis masa depan," ujarnya.

Dari aspek operasional, CORA Environment di Singapura dan Indonesia mengelola hampir 1 juta  ton limbah per tahun dan melayani lebih dari 470 ribu pelanggan serta ribuan perusahaan.

Selain, CORA, Asia Medical Enviro Services (AMES) telah memproses lebih dari 3 ribu ton limbah rumah sakit di Singapura. Adapun ARAH Environmental telah mengelola lebih dari 6.000 ton limbah rumah sakit dan domestik di Indonesia. AMES dan ARAH merupakan anak usaha TOBA yang fokus pada pengolahan limbah rumah sakit.

Keberhasilan dalam bisnis pengolahan limbah di Singapura dan Indonesia, membuat TBS untuk ancang-ancang ekspansi ke negara lain di regional, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved