MIND ID Optimalkan Nilai Tambah Lewat Digitalisasi Operasional Tambang
MIND ID memperkuat transformasi digital sektor pertambangan melalui penerapan smart mining yang dijalankan PT Bukit Asam.
Ringkasan Berita:
- MIND ID memperkuat transformasi digital sektor pertambangan melalui penerapan smart mining yang dijalankan PT Bukit Asam.
- Integrasi OT–IT dan platform CiSEA membuat operasional tambang lebih efisien, aman, dan terpantau real-time.
- Digitalisasi ini meningkatkan produktivitas hingga 20 persen serta mendukung target kenaikan produksi nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) terus memperkuat transformasi digital di industri pertambangan nasional melalui penerapan sistem digital terintegrasi dari operasional tambang hingga manajemen perusahaan.
Transformasi ini menjadikan operasional penambangan batu bara semakin efisien dan aman serta menghasilkan nilai tambah sekaligus kontribusi besar bagi negara.
PTBA mengembangkan inisiatif digital dengan menggabungkan Operational Technology (OT) dan Information Technology (IT), sehingga seluruh proses operasional dapat dipantau secara real-time, terukur, dan terkoneksi dalam satu ekosistem digital.
Melalui platform CiSEA (Corporate Information System for Enterprise Application), sistem produksi, pengangkutan, keselamatan kerja, hingga pemeliharaan peralatan tambang kini dapat dikelola secara komprehensif berdasarkan data terintegrasi.
Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, menegaskan bahwa transformasi digital ini menjadi fondasi penting bagi penguatan industri batu bara nasional.
“Dengan penerapan teknologi digital terkini, perusahaan dapat memantau aktivitas pertambangan secara real-time, mengoptimalkan proses kerja, dan meningkatkan hasil produksi,” kata Pria dalam keterangannya, Kamis (4/12/2025).
Menurutnya, digitalisasi secara real-time bahkan telah meningkatkan produksi batu bara sebesar 10–20 persen dibanding sebelum implementasi.
Transformasi ini juga mendukung ambisi Grup MIND ID untuk meningkatkan produksi batu bara dari 41 juta ton menjadi 100 juta ton ke depan, sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan energi nasional dan mendukung program hilirisasi.
Pria Utama menjelaskan bahwa melalui CiSEA, PTBA kini mengoperasikan lebih dari 100 modul digital yang digunakan oleh lebih dari 7.000 pengguna internal.
Sekitar 70 persen aktivitas operasional sudah terekam dalam data terintegrasi — meningkatkan akurasi dalam pengambilan keputusan operasional.
Sistem digital tersebut tidak hanya mencakup jaringan sensor dan alat otomatis, tetapi juga sistem pemantauan alat berat serta analitika berbasis machine learning.
Baca juga: PP Presisi Kembali Kantongi Kontrak Baru Proyek Tambang di Halmahera Timur Malut
Dengan pendekatan ini, semua aspek produksi — mulai dari perencanaan tambang, penjadwalan alat, hingga pemantauan energi dan emisi — dapat dikontrol dengan presisi tinggi. Selain itu, digitalisasi memungkinkan PTBA memperkuat tata kelola lingkungan.
"Perusahaan kini bisa memantau kualitas air, rehabilitasi lahan, dan mengendalikan area operasional secara digital — memastikan seluruh proses penambangan sesuai dengan kaidah good mining practice," katanya.
Baca juga: Soal Konsesi Tambang Batu Bara, Wasekjen PBNU: Beban Sejarah, Jadi Bahan Nyinyir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kapal-pengangkut-batubara-PTBA.jpg)