Selasa, 2 Juni 2026

Didukung Kebijakan Pemerintah, Utilisasi Industri Keramik Nasional Naik Jadi 73 Persen

ASAKI meyatakan tingkat utilisasi pabrik untuk produksi naik dari 66 persen di 2024 menjadi 73 persen di 2025.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sanusi
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews.com/Choirul Arifin
GELIAT INDUSTRI KERAMIK - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyatakan tingkat utilisasi produksi industri keramik nasional naik dari 66 persen di 2024 menjadi 73 persen di 2025. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menyampaikan optimismenya terhadap prospek industri keramik nasiona di 2026.
  • Kepemimpinan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita juga membawa dampak positif untuk pertumbuhan sektor manufaktur.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri keramik nasional menunjukkan sinyal kebangkitan yang semakin nyata. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) meyatakan tingkat utilisasi pabrik untuk produksi naik dari 66 persen di 2024 menjadi 73 persen di 2025.

Peningkatan utilisasi tersebut secara langsung mendorong pertumbuhan volume produksi keramik nasional. Sepanjang 2025, produksi keramik bertambah sekitar 62 juta meter persegi, atau tumbuh 15 persen dibandingkan total produksi tahun 2024.

Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto menyampaikan optimismenya terhadap prospek industri keramik ke depan. Bahkan, Indonesia mencatatkan prestasi yang membanggakan di tingkat global. 

"Indonesia menjadi satu-satunya negara produsen keramik, baik di Asia, Eropa, maupun Amerika yang mampu mencatatkan pertumbuhan tingkat utilisasi produksi sekaligus peningkatan kapasitas produksi sepanjang 2025," kata Edy melalui keterangan resminya di Jakarta (2/1).

Capaian ini tidak terlepas dari peran aktif pemerintah melalui berbagai kebijakan pro-industri, seperti penerapan kebijakan antidumping, safeguard keramik, serta pemberlakuan SNI wajib untuk produk keramik. Kebijakan tersebut dinilai berhasil menjaga daya saing industri dalam negeri di tengah tekanan global.

Selain itu, kepemimpinan Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita juga membawa dampak positif untuk pertumbuhan sektor manufaktur, khususnya industri keramik nasional. Menurutnya, beliau (Menperin Agus) merupakan sosok visioner yang terbukti mampu menciptakan kebijakan-kebijakan yang sangat tepat dan smart.

Baca juga: Ekspor Terus Menggeliat, Ini Strategi ASAKI Genjot Industri Keramik Nasional  

"Beliau sangat visioner, orang yang tepat memimpin Perindustrian. Kebijakan-kebijakan yang diciptakan beliau sangat strategis, tepat dan smart, dan pro industri, salah satunya yaitu perpanjangan HGBT, SNI wajib keramik, serta rencana kebijakan entry poin untuk produk impor. Beliau juga mau belanja masalah dan mendengarkan secara langsung keluhan-keluhan sektor industri," tegasnya.

Memasuki 2026, ASAKI memproyeksikan tingkat utilisasi produksi akan meningkat hingga 80 persen, dengan target volume produksi sekitar 537 juta meter persegi, atau tumbuh 13 persen dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 474,5 juta meter persegi.

Optimisme tersebut tercermin dari tren positif pada kuartal IV 2025. Tingkat utilisasi produksi terus menanjak, dari 75 persen pada Oktober, meningkat menjadi 76 persen di November, dan mencapai 78 persen pada Desember 2025.

ASAKI juga menaruh harapan besar pada realisasi Program 3 Juta Unit Rumah pada 2026. "Jika program tersebut berjalan optimal, tingkat utilisasi produksi industri keramik nasional berpotensi melonjak signifikan dari target 80 persen menjadi 96 persen," ungkap Edy.

Namun demikian, proyeksi pertumbuhan 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan serius, salah satunya adalah gangguan pasokan gas. Hingga saat ini, industri keramik di Jawa bagian Barat hanya memperoleh sekitar 60 persen pasokan gas, sementara di Jawa bagian Timur berkisar 50–55?ngan harga HGBT USD 7 per MMBTU.

Kekurangannya harus dipenuhi dengan skema surcharge mahal mencapai USD 15,4 per MMBTU, yang menekan biaya produksi.

Selain itu, ASAKI juga menyoroti lonjakan impor keramik sepanjang 2025, terutama dari India (naik 55%), Vietnam (32%), dan Malaysia (melonjak 210%).

Untuk menghadapi tekanan ini, ASAKI akan bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) guna menginisiasi penyelidikan dumping terhadap produk keramik asal India pada semester pertama 2026, sekaligus mengumpulkan data indikasi transhipment produk China melalui Malaysia.

Baca juga: Pasokan Gas Murah Tak Pasti, Pelaku Industri Curhat Soal Pelemahan Daya Saing Produk

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved