Senin, 20 April 2026

Nilai Tukar Rupiah

Pelemahan Rupiah Hari Ini Lebih Parah dari Posisi Krisis Moneter 1998, Bersiap Tembus Level Rp17.000

Analis memprediksi rupiah berpotensi menembus Rp17.000 akibat modal keluar dan defisit neraca pembayaran.

KONTAN/Carolus Agus Waluyo
NILAI TUKAR RUPIAH - Analis memprediksi rupiah berpotensi menembus Rp17.000 akibat modal keluar dan defisit neraca pembayaran. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah sempat menyentuh Rp16.879 per dolar AS, lebih dalam dari level krisis 1998.
  • Analis memprediksi rupiah berpotensi menembus Rp17.000 akibat modal keluar dan defisit neraca pembayaran.
  • BI menegaskan stabilisasi terus dilakukan, sementara pemerintah optimistis rupiah segera menguat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (14/1/2025) lebih dalam dari posisi krisis moneter yang melanda Indonesia di tahun 1998.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot sekitar pukul 14.30 WIB, melemah 0,06 persen ke posisi Rp16.867 per dolar AS.

Bahkan rupiah sempat menyentuh level Rp16.879 per dolar AS.

Diketahui, pada 6 Juni 1998, rupiah terjun ke posisi Rp16.800 per dolar AS, namun ditutup menguat di level Rp15.200 per dolar AS.

Baca juga: Mata Uang Iran Jatuh, Bagaimana Dampaknya Terhadap Rupiah?

Kemudian, rupiah kembali mengalami tekanan saat dunia dilanda pandemi Covid-19 atau corona pada 2020.

Tercatat, rupiah saat itu ditutup di posisi Rp 16.605 per dolar AS pada 23 Maret 2020.

Mata Uang Negara Asia

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang negara Asia lainnya juga turut melemah pada hari ini. 

  • Baht Thailand mencatat pelemahan paling dalam, yakni 0,83 persen.
  • Yen Jepang melemah 0,47 persen.
  • Won Korea melemah 0,4 persen.
  •  Peso Filipina melemah 0,13 persen.
  • Dolar Singapura melemah 0,11 persen.

Rupiah Bisa Tembus Rp17.000

HSBC memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga mencapai level Rp 17.000 per dolar AS pada akhir tahun 2026.

Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist sekaligus Asean Economist HSBC, Pranjul Bhandari, mengatakan rupiah diperkirakan akan bergerak sedikit lebih lemah dibandingkan posisi saat ini yang berada di kisaran Rp 16.700–Rp 16.800 per dollar AS.

“Kami pikir pada akhir tahun 2026, kita mungkin akan mencapai angka Rp 17.000 atau sekitar itu. Jadi sedikit lebih lemah daripada saat ini,” ujarnya.

Ia menilai depresiasi rupiah dipicu oleh masih berlanjutnya aliran keluar modal investasi portofolio, serta melemahnya penanaman modal asing (PMA) sejak tahun lalu.

Kondisi tersebut turut diperburuk oleh kinerja neraca pembayaran yang masih mencatat defisit cukup lebar sejak kuartal II-2025.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved