Benahi Hilirisasi Nikel: Produksi Naik 10 Kali Lipat Tapi Manfaat Ekonominya Turun
Investasi yang terlalu besar di hilirisasi nikel sejak UU Minerba berlaku tahun 2009, berdampak pada jatuhnya harga nikel.
Menurutnya, perlu ada strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi terhadap nikel. Pertama adalah laba bersih yang menjadi milik perusahaan/investor. Karena di nikel ini hampir semua investor asing, maka ini miliknya asing atau nilai tambah asing yang tidak bisa kita klaim. Kedua adalah pajak, itu milik pemerintah.
"Sayangnya pajak ini kita gratiskan dan kasih insentif. Akhirnya kita tidak dapat dari sisi ini. Dan yang ketiga adalah biaya produksi. Nah biaya produksi ini merupakan bagian yang selama ini jarang diperhatikan Padahal justru nilai tambah ekonomi terbesar dari industri adalah biaya produksi," bebernya.
Dia menyebutkan, biaya produksi selama ini dibayarkan kepada karyawan, dibayarkan kepada pemasok, dibayarkan kepada pemilik industri. Jadi biaya produksi ini sebenarnya yang menghidupkan ekonomi Indonesia.
"Sayangnya dalam model ekonomi investasi asing kita biaya produksi ini sering diremehkan dengan boleh membayar rendah, akhirnya kecil biaya produksinya. Jadi kalau kita lihat dari sini nilai tambah ekonomi yang benar-benar ada manfaatnya untuk pemerintah yaitu pajak yang masuk ke pemerintah dan biaya produksi," kata dia.
Secara umum ada 5 prinsip agar hilirisasi nikel meningkatkan manfaat ekonomi. Pertama adalah kuota produksi, tujuannya untuk meningkatkan harga. Jadi produksi kita kurangi dengan hanya mengikuti konsumsi dunia. Kuota produksi ini dapat menaikkan harga nikel dunia.
Kedua, tarif ekspor. Agar nilai ekspor juga mengalir kepada pemerintah maka kita terapkan tarif ekspor yang signifikan agar pendapatan pemerintah itu signifikan yaitu sekitar 10 sampai 35 persen. Tarif ekspor ini akan menaikkan harga nikel global.
“Ini sama seperti kuota. Kalau kita pemain besar dan kita menerapkan tarif ekspor maka harga global pasti naik. Efek yang kedua tarif ekspor ini akan menurunkan harga nikel di dalam negeri lebih rendah daripada harga nikel di pasar internasional."
"Selisihnya itu sebesar tarif ekspor yang akan menjadi insentif bagi perusahaan yang akan membangun industri pengolahan nikel di Indonesia karena harga bahan baku di Indonesia lebih murah daripada di luar negeri. Jadi pemerintah kita sudah tidak perlu lagi mengeluarkan tax holiday atau pembebasan pajak,” kata Arum.
Ketiga, pencabutan insentif. Dengan tarif ekspor ini secara otomatis pemerintah tidak perlu memberikan insentif bebas pajak untuk perusahaan asing. Tarif ekspor akan memperbesar pendapatan pemerintah dan sedikit mengurangi laba bersih perusahaan asing.
Keempat peningkatan ESG (Environmental, Social dan Governance). Biaya produksi adalah nilai tambah bagi pemerintah. Kalau kuota dan tarif ekspor tidak meningkatkan biaya produksi, tapi kebijakan yang bisa menaikkan biaya produksi adalah kenaikan ESG yaitu kenaikan standar upah, standar sosial, dan lain-lain. Pertama standar tenaga kerja perlu dinaikkan, standar lingkungan hidup, termasuk kualitas untuk menggunakan energi dan TKDN (tingkat komponen dalam negeri).
“Biaya produksi nikel di Indonesia paling murah di dunia, bahkan 50 persen lebih murah daripada di China. Biaya produksi kita masih terlalu rendah sehingga pemerintah masih punya space untuk menaikkan biaya produksi tanpa kehilangan daya saing sedikitpun, antara lain dengan memasukkan TKDN maupun standar ESG dalam biaya produksi. Jadi berbeda dengan kuota dan tarif, pilar keempat ini memperbesar nilai tambah ekonomi,” ungkap Arum.
Arum melihat dengan cadangan nikel sebesar 42 persen dan produksi nikel 60 persen, jika ini terus berlanjut dalam 10 tahun maka Indonesia akan menjadi pemain kecil. Untuk itu, agar kita bisa mempertahankan posisi dominasi Indonesia maka kita perlu menurunkan produksi sampai kurang lebih 42 persen, sama seperti cadangannya, dengan begitu kita bisa menguasai sampai anak-cucu kita
Kelima adalah perlu menggagas organisasi nikel dunia, sama seperti OPEC.
“Posisi kita sekarang ini sama dengan negara-negara OPEC. Bedanya, OPEC adalah kumpulan negara-negara penghasil minyak, kita sendirian. Jadi kita tidak perlu mengkoordinasi banyak orang karena kita bisa menentukan sendirian. We are the only man beside."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BENAHI-HILIRISASI-NIKEL-Bhima-Yudhistira-Direktur-Eksekutif-CELIOS.jpg)