Rabu, 20 Mei 2026

Benahi Hilirisasi Nikel: Produksi Naik 10 Kali Lipat Tapi Manfaat Ekonominya Turun

Investasi yang terlalu besar di hilirisasi nikel sejak UU Minerba berlaku tahun 2009, berdampak pada jatuhnya harga nikel.

Tayang: | Diperbarui:
HO/IST
BENAHI HILIRISASI NIKEL - Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS (kedua dari kiri) menyampaikan paparan di acara diskusi bertajuk Reformasi Hilirisasi Nikel untuk Meningkatkan Manfaat Ekonomi di Hotel Oria, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Pemerintah RI perlu memperbaiki tata kelola hilirisasi nikel di Indonesia karena manfaat ekonominya cenderung turun meski produksinya terus meningkat. 

Saat ini perusahaan atau investor asing paling banyak mendapatkan keuntungan dari laba bersih proyek smelter seperti China, Vietnam, Malaysia, Singapura, Makau, Hongkong, dan lain-lain, yang mendapatkan fee atau rente dari hilirisasi di Indonesia.

Ganti Pemain, Libatkan AS Jangan Hanya China

Terkait upaya Pemerintah RI mendapatkan tarif ekspor murah ke Amerika Serikat, sekaligus Amerika bisa membantu hilirisasi, Bhima mengusulkan harus ada ganti pemain karena dalam 10 tahun terakhir, kita diperdaya perusahaan-perusahaan dari China. 

“Jangan dominasi pasar hanya kepada China. Jadi Amerika Serikat dibutuhkan untuk balancing di dalam skema hilirisasi. Tetapi ganti pemain yang saya maksud agar BUMN kita yang berdaya dan berjaya. Menjadi champion dalam hilirisasi ini,” tegasnya.

Selanjutnya, agar Amerika Serikat tertarik investasi nikel atau mineral kritis, maka kita harus perbaiki tata kelola hilirisasinya. Kalau perlu Pemerintah RI meminta perusahaan China untuk divestasi sahamnya sebagian agar dikelola secara patungan antara BUMN Indonesia dengan Amerika Serikat sehingga daya tawar yang terlalu besar dari sisi pembeli bisa diimbangi.

“Indonesia sebenarnya penguasa nikel, tapi selama ini, seolah kita lemah di hadapan para buyer karena sebenarnya pasar nikel di Indonesia ini menjadi tidak oligopoli. Pasar nikel di Indonesia saat ini monopsoni. Kita merasa pemain besar nikel tapi pembelinya satu, Tiongkok."

"Jadi meskipun kita punya cadangan yang besar, kita nggak punya kontrol terhadap harga karena monopsoni. Ini menjadi tantangan, apakah dengan skenario monopsoni akan diubah menjadi beberapa buyer ataupun pemain, salah satunya dengan masuknya Amerika Serikat bisa membuat skenario harga akan berubah.

"Kalau pasarnya dipecah, tidak lagi monopsoni atau pembeli tunggal, itu akan berpengaruh,” tegas  Bhima.(tribunnews/fin)

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved