Minggu, 3 Mei 2026

Sore Ini Rupiah Melemah Tipis ke Rp 16.956 Per Dolar AS

Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar AS dari Rp 16.955 pada perdagangan hari ini.

Tayang:
Editor: Choirul Arifin
KONTAN/Carolus Agus Waluyo
MELEMAH TIPIS - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar AS dari Rp 16.955 pada perdagangan hari ini, Selasa, 20 Januari 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar AS dari Rp 16.955 pada perdagangan hari ini.
  • Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal seperti ambisi Trump menganeksasi Greenland yang merupakan teritori Denmark di Arktik.
  • The Fed diperkirakan akan menghentikan pelonggaran moneter di pertemuan akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.955 pada perdagangan Selasa (20/1/2026) sore ini.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini seiring dengan indeks dolar AS yang menguat dengan faktor-faktor pemicu dari dalam dan luar negeri.

Salah satu faktor pemicu dari luar negeri adalah ngototnya Presiden AS Donald Trump yang akan mengakuisisi Greenland yang merupakan teritori Denmark.

Donald Trump tidak mengungkapkan apakah ia akan mengerahkan kekuatan militer ke pulau tersebut atau tidak.

Intervensi militer AS mengkhawatirkan banyak negara sejak Donald Trump mengirim pasukan militernya untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

"Trump kini menuju Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana presiden AS kemungkinan akan bertemu dengan beberapa pemimpin Eropa," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).

Kekhawatiran terkait dengan perang dagang juga meningkat setelah Donald Trump mengancam akan mengenakan bea tambahan 10 persen mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.

Bea tambahannya menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.

Uni Eropa dan Inggris dinilai siap membalas. Uni Eropa dilaporkan sedang mempersiapkan tarif balasan hingga 93 miliar euro untuk barang-barang AS dan juga mempertimbangkan untuk membatasi akses perusahaan Amerika ke pasar Eropa.

Anggota parlemen Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membekukan ratifikasi kesepakatan perdagangan yang ditandatangani Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen musim panas lalu.

Terkait dengan prospek penurunan suku bunga, sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve atau Bank Sentral AS (The Fed) akan menghentikan pelonggaran moneternya pada pertemuannya akhir bulan ini karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.

"Pasar saat ini memperkirakan hanya 5 persen kemungkinan penurunan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan Januari, menurut alat CME FedWatch," ucap Ibrahim.

Dalam Negeri

Dari faktor dalam negeri, ada International Monetary Fund (IMF) yang merevisi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen. Ini sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5 persen.

"Proyeksi terbaru ini juga merevisi ke atas ramalan sebelumnya di Oktober 2025," kata Ibrahim.

Baca juga: Rupiah Melemah Pasca Thomas Masuk Bursa Deputi Gubernur BI, Menkeu: Itu Spekulasi 

Proyeksi pada 2026 lebih tinggi 0,2 poin dan 2027 lebih tinggi 0,1. Revisi ke atas ini beriringan dengan laju pertumbuhan ekonomi global untuk 2026.

Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan naik menjadi 3,3 persen dari sebelumnya 3,1 persen pada Oktober 2025.

IMF tak mengulas prospek terbarunya itu untuk ekonomi Indonesia. Namun, secara global, Ibrahim menyebut ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan gencanya stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif pada tahun ini.

Stimulus tersebut mengompensasi risiko tekanan akibat konflik geopolitik hingga pelemahan aktivitas perdagangan global.

Terlepas dari itu, Ibrahim menyebut prospek laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF ini masih jauh lebih cepat dibanding banyak negara dalam daftar 30 negara terpilih.

Baca juga: Rupiah Terperosok ke Level Kritis, Ekonom Nyalakan Alarm: Sudah Perlu Diwaspadai

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,1 persen pada 2026 dan 2027 itu hanya tertinggal dari Filipina yang prospek pertumbuhannya hingga 5,6 persen pada 2026 dan 5,8 persen pada 2027, serta India yang tumbuh 6,4 persen pada 2026 dan 2027.

Sementara itu, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terjaga di level 5,1 persen pada 2026, sebagaimana laju pertumbuhan sejak 2023-2025. Lalu, baru meningkat ke level 5,2 persen pada 2027.

"Terjaganya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia itu, menurut Bank Dunia, disebabkan efek kucuran stimulus ekonomi yang diberikan pemerintah sejak 2025, ditambah dengan investasi yang akan terus dimotori pemerintah," ucap Ibrahim. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved