Sabtu, 2 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Rupiah Kembali Melemah Setelah Sempat Menguat Tipis di Level Rp 16.953 per Dolar AS

Rupiah diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp16.950–Rp16.980 per dolar AS hari ini.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KURS - Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah di pasar spot dibuka ke level Rp 16.953 per dolar Amerika Serikat (AS). 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah dibuka menguat di Rp16.953 per dolar AS, namun kembali melemah ke Rp16.958.
  • Tekanan datang dari sentimen global, termasuk isu geopolitik AS, tarif impor, dan penguatan dolar.
  • Rupiah diperkirakan bergerak melemah di kisaran Rp16.950–Rp16.980 per dolar AS hari ini.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan, meski awalnya dibuka menguat.

Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah di pasar spot dibuka ke level Rp 16.953 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut naik tipis tipis 0,02 persen dibanding hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.956 per dolar AS. 

Tetapi, pergerakan rupiah di zona hijau tidak berlangsung lama dan melemah ke posisi Rp 16.958 per dolar AS.

Baca juga: Sore Ini Rupiah Melemah Tipis ke Rp 16.956 Per Dolar AS

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari sentimen global, khususnya meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. 

Pada Senin (19/1/2026), Presiden AS Donald Trump kembali mempertahankan tuntutannya atas Greenland. 

"Dalam wawancara dengan NBC News, Trump juga tidak menutup kemungkinan pengerahan militer untuk pulau tersebut, sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar global," ujar Ibrahim, Selasa (20/1/2026).

Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah AS sebelumnya melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. 

Situasi ini mendorong pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan memilih aset aman, yang pada akhirnya memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ibrahim menambahkan, pernyataan Trump yang akan mengenakan tambahan tarif impor sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris bakal jadi penghadang rupiah. 

Tarif tersebut bahkan berpotensi naik menjadi 25 persen pada 1 Juni apabila tidak tercapai kesepakatan terkait Greenland.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga masih mencermati arah suku bunga Amerika Serikat. 

Pasar pun memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir Januari ini, seiring kondisi pasar tenaga kerja AS yang dinilai masih stabil. Peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan Januari saat ini diperkirakan sangat kecil.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah masih mengalami pelemahan, di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 16.980 per dolar AS. 

Mata Uang Asia

Hingga pukul 09.00 WIB, mata uang di Asia bervariasi. 

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,51 persen.

Baht Thailand yang melesat 0,43?n peso Filipina yang menanjak 0,23 persen. 

Disusul, yen Jepang yang terkerek 0,11%.

Kemudian dolar Hongkong yang naik 0,02?n dolar Singapura terlihat menguat tipis 0,008% di pagi ini.

Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah terkoreksi 0,06%.

Kemudian yuan China dan ringgit Malaysia sama-sama melemah 0,05% terhadap the greenback.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved