Mulai Hari Ini, Pedagang Daging Sapi Mogok Jualan: Harga Makin Mahal
APDI DKI Jakarta menggelar mogok jualan daging sapi pada 22–24 Januari 2026 di pasar dan RPH Jabodetabek.
Ringkasan Berita:
- APDI DKI Jakarta menggelar mogok jualan daging sapi pada 22–24 Januari 2026 di pasar dan RPH Jabodetabek.
- Aksi dipicu harga sapi hidup dan karkas yang terus naik tanpa jaminan stabilisasi pemerintah.
- Pedagang menilai lonjakan harga menekan daya beli dan mengancam keberlangsungan UMKM.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pedagang daging sapi di wilayah Jakarta melakukan aksi mogok jualan selama tiga hari, mulai Kamis (22/1/2026) sampai Sabtu (24/1/2026).
Aksi mogok jualan ini karena makin mahalnya harga daging sapi dan meminta pemerintah bergerak cepat melakukan intervensi.
Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta Wahyu Purnama, menyampaikan, pedagang daging sapi yang tergabung dalam APDI DKI Jakarta mogok jualan karena harga sapi timbang hidup dari feedloter yang terlalu tinggi dan harga karkas atau bagian tubuh hewan ternak dari Rumah Potong Hewan (RPH) turut naik.
Baca juga: Desember 2025 Inflasi 0,64 Persen, Dipicu Kenaikan Harga Pangan
Dalam surat yang ditujukan APDI DKI Jakarta kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, disebutkan bahwa mogok jualan akan dilakukan di seluruh pasar dan RPH se-Jabodetabek.
"Melalui surat ini kami memberitahukan bahwa seluruh anggota Asosiasi Pedagang Daging Indonesia Bandar sapi potong dan pedagang daging akan melakukan aksi berhenti berjualan (mogok dagang) sebagai bentuk protes dan keprihatinan," kata Wahyu dalam surat tersebut yang dilihat Tribunnews pada Rabu (21/1/2026).
Pada 5 Januari 2026, APDI Jakarta sebelumnya telah bertemu Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian dan intansi terkait untuk membahas kenaikan harga ini.
Mereka meminta adanya jaminan kestabilan harga sapi timbang hidup selama dua pekan ke depan dari pemerintah, tetapi sayangnya tidak direalisasikan.
Faktor mereka mogok jualan akibat harga yang terus naik ini juga tak lepas dari daya beli masyarakat yang menurun.
"Menimbang aspirasi dan pendapat dari anggota APDI bandar sapi potong dan pedagang daging hilirisasi Pasar Tradisional se-Jabodetabek serta masyarakat menengah ke bawah yang merasa sangat terdampak oleh tingginya harga komoditas daging sapi," tulis surat tersebut yang bernomorkan 174/PABB-APDI/I/2025.
"Dalam rangka menjaga eksistensi dan menciptakan lingkungan yang kondusif dalam Asosiasi Pedagang Daging Indonesia sebagai Organisasi dipandang perlu untuk melakukan tindakan," tulis surat itu lagi.
APDI Jakarta berharap kepada Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, dapat segera mengambil langkah konkret menstabilkan harga.
Langkah dinilai harus segera diambil karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan keberlangsungan UMKM di bagian hilirisasi.
Berdasarkan data SP2KP Kementerian Perdagangan, harga rata-rata daging sapi paha belakang di DKI Jakarta tecatat mengalami kenaikan sebesar 0,18 persen dari Rp 139.667 ke Rp 139.917 per kilogram (kg).
Kuota Impor Dipangkas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Harga-Daging-Sapi-di-Pasar-Anyar-Kota-Bandung_20250227_195901.jpg)