Jumat, 5 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Konflik AS-Israel Vs Iran, Pakar Ingatkan Ancaman Serius Ketersediaan Gas LPG di Dapur Warga

Ancaman paling mengerikan, kata Kurtubi, bukan hanya pada BBM tetapi pada ketersediaan gas LPG untuk rumah tangga.

Tayang: | Diperbarui:
Ringkasan Berita:
  • Perang Iran melawan Israel-AS memasuki hari ke-11.
  • Sejumlah pihak khawatir perang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM. 
  • Selain berdampak ke BBM, Dr. Kurtubi mengingatkan perang di Timur Tengah akan berdampak juga ke stok LPG.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Perminyakan dan Energi, Dr. Kurtubi menyoroti eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran yang telah berjalan 11 hari.

Perang itu telah memicu gejolak harga minyak mentah dunia. 

Sempat meroket hingga 118 dolar AS per barel, harga minyak dunia memang berangsur turun di kisaran 80-85 Dolar AS per barel pada awal pekan ini.

Meski pemerintah mengklaim stok Bahan Bakar Minyak (BBM) aman hingga 21 hari ke depan dan harga tidak akan naik hingga Lebaran namun peringatan justru datang dari Kurtubi.

Dalam wawancara khusus bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra, Dr. Kurtubi menegaskan bahwa ancaman krisis energi di Indonesia sangat nyata jika Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia sampai tertutup akibat perang.

"Krusial bangetnya itu fakta bahwa produksi minyak kita amat sangat rendah, jauh dari yang kita butuhkan," kata Kurtubi di Studio Tribunnews.com, Palmerah, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ancaman paling mengerikan, kata Kurtubi, bukan hanya pada BBM tetapi pada ketersediaan gas LPG untuk rumah tangga.

Saat ini, hampir seluruh kebutuhan LPG Indonesia bergantung pada impor, yang mayoritas didatangkan dari negara-negara Timur Tengah.

"Kalau sampai Selat Hormuz terganggu, tidak hanya BBM yang akan terganggu, LPG juga akan terganggu. Ini sangat berbahaya kalau sampai BBM dan LPG ini kekurangan di pasar dalam negeri. Karena masyarakat sudah terlanjur dialihkan memakai LPG untuk memasak. Dulu di kampung pakai kayu bisa, sekarang semua pakai LPG," terangnya.

Kurtubi juga mengkritik rencana pemerintah yang ingin mengalihkan impor migas dari Timur Tengah ke negara-negara yang jaraknya sangat jauh seperti di benua Amerika atau Afrika.

Menurutnya, hal itu sangat berisiko tinggi karena ongkos angkut yang mahal dan kerentanan cuaca di lautan yang bisa membuat pasokan terlambat tiba di Tanah Air.

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved