Senin, 20 April 2026

Cegah Risiko Kesehatan, Arsitek Sarankan Masyarakat Tak Gunakan Material Berbahan Timbal

Arsitek dan urban designer Adjie Negara mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan material bahan bangunan.

HO/IST
PROPERTI - Arsitek dan urban designer Adjie Negara mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan material bahan bangunan. 

Dalam hal ini, arsitek memiliki peran penting dalam merancang bangunan dan mengedukasi dan merekomendasikan pilihan material yang lebih sehat dan aman, baik itu untuk atap, lantai, maupun dinding.

Menurut Adjie, saat ini sudah banyak sekali material dengan bahan yang lebih aman sebagai pengganti. “Kalau untuk cat, kita sarankan untuk menggunakan yang lebih banyak sumbernya dari alam, misalnya cat yang water based yang non-toxin,” jelasnya.

Pada dasarnya, cat tidak berbahaya, namun cat yang mengandung kadar timbal tinggi dapat meningkatkan risiko paparan jangka panjang.

WHO telah merekomendasikan batas kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm, standar yang banyak diadopsi secara global.

Di Indonesia, peningkatan kesadaran akan bahaya timbal masih diperlukan. Studi Bank Dunia (2023) menunjukkan 44,8 persen masyarakat tinggal di rumah dengan cat berbasis timbal dan 57,9 persen menggunakan cat interior yang mengandung timbal, yang biasanya ditemukan pada cat dekoratif seperti cat besi dan kayu.
Lingkungan Sehat untuk Tumbuh Kembang Anak

Dokter Reza Fahlevi, Sp.A(K), dokter spesialis anak, menambahkan bahwa lingkungan yang sehat merupakan faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan keluarga, terutama dalam upaya pencegahan risiko kesehatan bagi kelompok rentan seperti anak-anak.

“Anak-anak itu sering melakukan eksplorasi dengan bermain, dan itu adalah hal yang penting di masa tumbuh kembangnya, jadi lingkungan tempat ia melakukan eksplorasi, baik itu di rumah, di playground, atau di sekolah harus aman,” jelas dr. Reza.

Di masa eksplorasi itu, anak dapat terpapar material berbahaya dari rumah dan masuk ke tubuh melalui mulut dengan perantara tangan atau terhirup.

Misalnya, pada dinding, lapisan cat yang mengandung timbal dapat terdegradasi seiring waktu dan menghasilkan debu yang berpotensi terhirup atau tertelan, terutama oleh anak-anak yang memiliki kebiasaan memasukkan tangan ke dalam mulut

“Yang dikhawatirkan adalah ketika terjadi akumulasi paparan timbal tersebut sehingga meningkatkan risiko penyakit di kemudian hari. Dengan kadar yang sama, konsentrasi timbal yang masuk ke tubuh anak lebih besar karena luas permukaan tubuhnya masih kecil dibandingkan dengan orang dewasa," ujarnya.

Beberapa risiko kesehatan saat timbal ini terakumulasi adalah kerusakan otak sehingga memengaruhi kecerdasan dan konsentrasi anak.

Pada orang dewasa juga dapat menyebabkan kelainan saraf, gangguan ginjal, hipertensi, hingga kerusakan sel darah kalau terpapar dalam jumlah tinggi dan durasi waktunya lama. Meskipun begitu, bukan berarti lantas orang tua mengabaikannya,” papar dr. Reza.

Pemerintah Indonesia telah mengatur standarisasi material bahan bangunan yang aman melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) termasuk untuk cat dekoratif berbasis pelarut dengan pembatasan kandungan zat berbahaya seperti timbal yang dijual ke masyarakat. 

Standar ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mengambil keputusan yang lebih bijak dalam memilih material.

Menurutnya, momentum renovasi rumah, seperti menjelang Lebaran, dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk tidak hanya memperbarui tampilan estetika hunian, tetapi juga meningkatkan aspek kesehatan dan keselamatan, termasuk melalui pemilihan cat dan pelapis yang lebih aman serta bebas timbal.

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved