Animo Beli Emas di Pegadaian Melesat, Efek Harga Naik dan Tren FOMO
fenomena ini menjadi kebiasaan unik masyarakat, di mana permintaan emas justru meningkat saat harga sedang naik.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Minat masyarakat Indonesia terhadap investasi emas terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah kenaikan harga emas yang signifikan dalam dua tahun terakhir, masyarakat justru semakin agresif membeli logam mulia tersebut, termasuk melalui layanan yang disediakan PT Pegadaian.
Sebagai informasi, harga emas Antam di Pegadaian pada Selasa (17/3/2026) ukuran 1 gram dijual sebesar Rp 3.097.000.
Baca juga: Dari Tukang Ojek Jadi Bos Pegadaian Kampung, Program Agen Ciptakan Kisah Sukses di Daerah
Direktur Jaringan dan Operasi PT Pegadaian Eka Pebriansyah mengungkapkan, fenomena ini menjadi kebiasaan unik masyarakat, di mana permintaan emas justru meningkat saat harga sedang naik.
"Salah satu habit-nya masyarakat kita adalah mereka akan tinggi pembelian emas ketika harga emas itu malah mengalami kenaikan," tutur Eka dalam Podcast Tribunnews.com, Studio Tribunnews, Palmerah Selatan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (17/3/2026).
Menurut dia, lonjakan harga emas dalam dua tahun terakhir tergolong luar biasa dan berdampak langsung pada pertumbuhan bisnis emas Pegadaian. Pada tahun lalu, pertumbuhan transaksi emas bahkan mencapai 60 persen.
"Dua tahun ini emas naiknya sudah luar biasa. Tahun lalu kita tumbuh emas itu sampai 60 persen. Kalau kita investasi emas waktu itu (tahun lalu), kemudian saat ini kita sudah labanya 60 persen. Bayangin kita mau invest di mana yang labanya 60 persen. Di bank pun rata-rata di bawah 5 persen. Artinya itu memang luar biasa kenaikannya," jelasnya.
Eka menambahkan, kenaikan harga emas justru memicu efek psikologis di masyarakat, seperti Fear Of Missing Out (FOMO), yang mendorong mereka untuk segera membeli sebelum harga semakin tinggi.
Baca juga: Pegadaian Punya 275.000 Agen, Perluas Layanan Hingga Pelosok Indonesia
"Saat harga emas ini semakin naik itu animo pembelian emas itu luar biasa. Aneh ya? Biasanya harga naik orang mengurangi pembelian, nah ini kebalik. Jadi memang ketika emas naik, kalau saya mungkin ya fomo-nya itu ada juga ya. Takut nanti ini sudah Rp 3 juta. Ditambah lagi di medsos-medsos kalau kita lihat emas bisa naik ke Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. Panik kan? Ini jangan sampai kehilangan momentum nih langsung beli di situ," terangnya.
Meski demikian, Pegadaian mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka pendek semata. Emas dinilai lebih tepat sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang.
Selain untuk investasi, Eka juga mengungkapkan bahwa kini semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan emas untuk kebutuhan likuiditas, baik dengan menjual maupun menggadaikannya.
"Setiap waktu bisa kita jual atau kita gadaikan. Karena memang kalau saat ini sudah mulai banyak pembeli emas ini bukan hanya mereka yang beli emas untuk investasi tapi profit taking-nya, jadi memang betul-betul ngambil kesempatan naik," ucapnya.
Eka mengingatkan bahwa strategi mengambil keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga emas memiliki risiko tersendiri.
"Itu agak berisiko sebetulnya ketika dia ambil di harga yang cukup tinggi kemudian harga emasnya misalnya turun, nanti agak panik sendiri. Jadi saran kami memang investasi emas ini untuk investasi jangka panjang," ucapnya.