Gejolak Rupiah
Pergerakan Rupiah Masih Rapuh, Peluang Tembus Rp17.500 Makin Terbuka Lebar
Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan masih berada dalam rentang terbatas, sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Sebaliknya, jika minyak turun lebih konsisten, dolar tertahan di kisaran 98 sampai 99, dan ada kabar positif dari jalur diplomasi, rupiah dapat menguat terbatas ke area Rp 17.200-an per dolar AS.
"Untuk akhir Mei 2026, target dasar saya adalah rupiah berada di kisaran Rp 17.200 sampai Rp 17.450 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 17.300," ujar Josua.
Josua menegaskan, Rp 17.300 per dolar bukan nilai keseimbangan baru secara fundamental, tetapi lebih sebagai rentang perdagangan jangka pendek selama tekanan energi dan ketidakpastian global masih tinggi.
Josua menjelaskan terdapat empat sentimen utama yang membebani rupiah dan membuat rupiah lebih rentan dibanding mata uang negara yang tidak bergantung besar pada impor energi.
Pertama, harga minyak yang tinggi karena konflik Timur Tengah dan ketidakpastian Selat Hormuz.
Kedua, arah suku bunga Amerika Serikat yang lebih ketat dari harapan pasar.
Ketiga, tekanan fiskal domestik karena kenaikan minyak akan memperbesar subsidi dan kompensasi energi.
Keempat, kebutuhan dolar domestik untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan biaya pengiriman yang lebih mahal.
Josua mengatakan faktor domestik juga tidak bisa diabaikan. Tekanan pada rupiah diperkuat oleh kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan, beban subsidi energi, dan persepsi risiko fiskal.
Pada Maret dan April, tekanan rupiah juga terjadi bersamaan dengan arus modal asing yang belum benar-benar pulih.
Berdasarkan data Bank Indonesia, pada kuartal I 2026 investor asing masih mencatat arus keluar bersih sekitar US$1,78 miliar dari pasar domestik, meskipun instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatat arus masuk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah-melemah_20240124_212254.jpg)