Rabu, 13 Mei 2026

Harga Saham

IHSG Ambles 1,43 Persen, Nilai Tukar Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS

Rupiah dibuka di level Rp 17.479 per dolar AS, atau melemah 0,37 persen dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 17.414 per dolar AS.

Tayang:
Tribunnews/JEPRIMA
PERGERAKAN IHSG - Pekerja beraktivitas di Galeri PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta. IHSG sesi pertama ditutup turun 1,43% atau 98,49 poin ke level 6.807,12 dari posisi penutupan kemarin 6.905,62. 

Dari sisi global, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

Ia menilai konflik di kawasan Selat Hormuz masih berlanjut meski sebelumnya sempat dinyatakan mereda. Serangan-serangan kecil yang terus terjadi dinilai memicu kekhawatiran pasar global.

"Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump, tetapi kita lihat bahwa kenyataannya di lapangan Amerika terus melakukan penyerangan-penyerangan di Selat Hormuz," ungkap Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menyoroti keterlibatan Uni Emirat Arab yang disebut masih melakukan serangan terhadap Iran, termasuk serangan yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April.

Kondisi tersebut dinilai mendorong penguatan indeks dolar AS dan berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude oil.

"Nah kenaikan dari Brent crude oil ini berdampak terhadap transportasi dengan biaya yang cukup mahal," terang Ibrahim.

Tercatat, harga minyak Brent berjangka yang berakhir pada Juli, patokan minyak global, naik 2,9 persen menjadi USD104,22 per barel. 

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka yang berakhir pada Juni naik 2,8 persen menjadi USD98,03 per barel.

Dari sisi domestik, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen belum cukup kuat menopang penguatan rupiah.

Oleh sebab itu, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara kontribusi investasi dinilai masih terbatas.

Ia juga menyoroti meningkatnya ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor padat karya. Menurutnya, sejak Januari hingga April 2026 tercatat sekitar 40.000 pekerja di sektor manufaktur, tekstil, garmen dan elektronik terkena PHK.

"Ada kemungkinan besar bahwa beberapa bulan ke depan PHK akan kembali meningkat yang cukup signifikan," ungkap Ibrahim.

Di sisi lain, Ibrahim menyebut struktur ketenagakerjaan Indonesia yang didominasi pekerja informal turut menjadi tantangan bagi stabilitas ekonomi nasional. Ia mencatat jumlah pekerja informal mencapai sekitar 87,74 juta orang.

"Artinya bahwa saat ini yang ada di Indonesia yang bekerja secara formal itu sangat sedikit sekali dibandingkan dengan pekerja informal," ucapnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved