Rabu, 27 Mei 2026

Guru Besar IPB Ajak Mahasiswa Lebih Melek tentang Sawit

generasi muda dan mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun cara pandang yang lebih objektif terhadap berbagai isu strategis

Tayang:
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Sanusi
Tribunnews.com/HO
EDUKASI SAWIT - Kegiatan edukasi mahasiswa seputar sawit bertajuk GenSawit 2026 di kampus Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Kegiatan ini diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Universitas Udayana. 
Ringkasan Berita:
  • Generasi muda dan mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun cara pandang yang lebih objektif terhadap berbagai isu strategis tentang sawit dan industri sawit.
  • Penggunaan pendekatan berbasis data akan membantu generasi muda dalam melihat persoalan secara lebih adil tentang sawit.
  • Sebanyak 16 juta petani dan keluarganya saat ini menggantungkan hidup dari perkebunankelapa sawit. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Universitas Udayana baru-baru ini menyelenggarakan edukasi seputar sawit bertajuk GenSawit 2026 di kampus Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan literasi generasi muda mengenai peran strategis sektor Perkebunan, khususnya komoditas kelapa sawit bagi Pembangunan nasional. 

“Generasi muda memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi melalui penelitian, teknologi, digitalisasi serta pengembangan gagasan yang inovatif. Mahasiswa tidak hanya diharapkan menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu membangun narasi berbasis data dan ilmu pengetahuan”, ungkap Aida Fitria, Kepala Divisi Kerja Sama dan Kelembagaan BPDP dikutip Senin, 25 Mei 2026.

Baca juga: Peremajaan Dinilai Mendesak untuk Dorong Produktivitas Kebun Sawit Rakyat

Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa mengatakan generasi muda dan mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun cara pandang yang lebih objektif terhadap berbagai isu strategis, termasuk industri sawit Indonesia.

Dia menjelaskan, saat ini arus informasi berkembang sangat cepat, namun tidak semua informasi disertai data yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Isu sawit sering kali berkembang bukan hanya berdasarkan fakta ilmiah, tetapi juga dipengaruhi oleh opini, kepentingan ekonomi global, serta informasi yang tidak utuh," ungkapnya.

Karena itu, penting bagi generasi muda untuk tidak mudah menerima narasi secara sepihak, melainkan membangun kebiasaan berpikir kritis, analitis dan berbasis fakta. 

“Mahasiswa sebagai kalangan intelektual diharapkan mampu menjadi agen literasi publik yang menghadirkan diskusi yang sehat dan berimbang. Sikap kritis bukan berarti menolak atau menerima suatu isu secara mentah, tetapi berani menguji informasi, membandingkan sumber, memahami konteks, dan mencari solusi yang konstruktif," sebut Prof. Yanto Santosa.

Dia menambahkan, penggunaan pendekatan berbasis data akan membantu generasi muda melihat persoalan secara lebih adil dan tidak terjebak dalam polarisasi opini.

Baca juga: Quo Vadis Industri Sawit Indonesia?

Generasi muda juga perlu memahami bahwa tantangan keberlanjutan adalah tanggung jawab bersama. Industri sawit harus terus didorong menjadi lebih berkelanjutan, transparan, dan ramah lingkungan, namun kritik terhadap sawit juga harus disampaikan secara objektif dan proporsional.

"Generasi muda dapat berperan aktif menjaga kepentingan nasional sekaligus mendorong terciptanya industri sawit Indonesia yang semakin berdaya saing dan berkelanjutan di tingkat global,” ungkap Prof Yanto Santosa.

Dia menambahkan, pendekatan berbasis data juga membantu membangun narasi yang lebih seimbang mengenai dampak sosial ekonomi sawit. Industri ini telah menjadi sumber penghidupan bagi jutaan tenaga kerja dan petani kecil di Indonesia.

"Fakta ini sering kali kurang mendapat perhatian dalam kampanye negatif internasional. Dengan dukungan publikasi ilmiah, forum internasional, dan kolaborasi antar universitas maupun lembaga riset global, Indonesia dapat menghadirkan perspektif yang lebih komprehensif dan tidak semata-mata melihat sawit dari sisi lingkungan saja," sebutnya.

Dr. (cn) Djono A. Burhan, Head of International Relation dan Pengembangan SDM DPP Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Pusat) mengatakan, peran dan konstribusi petani kelapa sawit Indonesia tentu sangat besar terhadap keberlanjutan industri sawit.

Baca juga: Ini Tanggapan Alumni GMNI soal Prabowo Tertibkan Ekspor Sawit dan Batu Bara via BUMN

Ini karena sebanyak 41 persen atau 16 juta petani sawit dan keluarga petani menggantungkan hidupnya dari kelapa sawit. 

Bukan hanya daerah sentra sawit yang mendapatkan manfaat dari kelapa sawit, tapi jika dilihat dari peralatan mandi tempat penginapan saya selama kegiatan GenSawit 2026 di Bali bahwa bahan baku dari sabunnya terkandung Elaeis Guineensis Oil.

Dia mengatakan, petani juga berkontribusi terhadap pariwisata di Bali meskipun di Bali tidak ada lahan atau pohon sawit.

Para petani kelapa sawit berharap bisa bersama-sama menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit dengan menyuarakan manfaat dari kelapa sawit baik itu untuk industri sawit tersendiri ataupun untuk sampai ke industri pariwisata di Bali.

Petani kelapa sawit juga perlu didorong meningkatkan intensifikasi untuk memacu produktivitas lahan sawit antara lain melalui penggunaan bibit yang berkualitas sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi keluarga petani kelapa sawit dalam jangka panjang.

"Petani kelapa sawit juga mendorong prinsip keberlanjutan dimana menerapkan prinsip-prinsip Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Sehingga dalam pengelolaan kebun kita selalu berusaha untuk menjaga lingkungan dan alam," kata Djono A. Burhan. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved