Menjemput Asa di Kala Pandemi: Cerita Craftote yang Mendunia Bersama Rumah BUMN BRI
Melalui Rumah BUMN BRI, Craftote dilibatkan secara aktif dalam berbagai pameran skala nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional
Ringkasan Berita:
- Memulai bisnis dengan modal sendiri dan tanpa peta jalan yang matang ternyata memunculkan benturan realitas yang keras.
- Ekosistem BRI mengubah Craftote dari sebuah UMKM lokal yang pasif menjadi unit usaha yang bergerak sangat progresif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Jam dinding baru saja menunjuk pukul 09.00 WIB ketika aroma semerbak kopi robusta dan arabika menyeruak, memenuhi setiap sudut ruangan sebuah rumah dua lantai di kawasan Tomang, Jakarta Barat.
Di salah satu sudut ruangan bangunan rumah yang disulap menjadi kafe itu, Thio Siujinata tampak sibuk di depan laptop. Beberapa kerajinan anyaman tradisional memenuhi meja tempat ia bekerja.
"Ayo, silakan duduk," kata Thio kepada Tribunnews seraya menyingkirkan beberapa tas anyaman yang ternyata masih dalam tahap riset itu.
Selain kafe, tempat yang diberi nama Craftote itu memang sekaligus juga merupakan galeri hasil produk anyaman produksi Thio.
Baca juga: BRI Consumer Expo 2026 Digelar di JICC Senayan, Ada Promo Hunian, Kendaraan, hingga Liburan
Dengan latar belakangnya sebagai desainer grafis, Thio menyulap Craftote menjadi sebuah ruang kreatif unik yang mengawinkan dua dunia yang tampak berbeda: kehangatan sebuah kedai kopi (coffee shop) dan keunikan seni kerajinan tangan lokal (handicraft).
Namun, di balik atmosfer estetik dan kepulan asap kopi yang menenangkan pagi itu, ada sebuah kisah perjuangan yang berliku.
Siapa sangka, ruang kreatif yang kini menjadi salah satu pembuat tren produk kerajinan lokal ini lahir dari puing-puing ketidakpastian di masa pandemi Covid-19 pada akhir tahun 2021 lalu.
Berawal dari Niat Baik di Masa Sulit
"Asal-muasalnya sebenarnya tidak ada rencana untuk membuka usaha seperti ini," kenang Thio membuka obrolan dengan nada bertutur yang hangat.
Sambil menyeruput kopi latte panas dan pisang goreng, pria lulusan Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) angkatan 1990-an ini mengisahkan bahwa perjalanan Craftote berakar dari sebuah aksi sosial keluarga.
Saat pandemi menghantam, keluarga Thio yang bergerak di bisnis pasokan makanan beku (frozen food) kerap menyuplai kebutuhan sebuah panti asuhan bernama Abhimata di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.
Baca juga: Tak Lagi Repot Cari Kembalian, Transformasi Digital Warung Ibu Nurul Lewat QRIS BRI
Intensitas pertemuan yang tinggi di masa pengetatan mobilitas membuat Thio akrab dengan pengurus panti.
Dari sana ia mengetahui bahwa panti asuhan tersebut kehilangan banyak donatur akibat krisis ekonomi.
Ketika badai pandemi Delta mulai mereda, sang ibu panti melontarkan sebuah pertanyaan yang terus terngiang di telinga Thio: "Pak Thio, anak-anak ini sudah besar dan lulus SMA. Ada pekerjaan tidak untuk mereka?"
Thio sempat tertegun. Kala itu, ia masih bekerja serabutan—mulai dari menjadi agen asuransi yang sudah dilakoninya selama hampir 20 tahun, hingga berjualan mainan grosir secara daring.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Thio-Siujinata-pemilik-Craftote-Gallery-Coffee.jpg)