Haji 2026
Pelayan di Tanah Suci: di Balik Ketenangan Ibadah Jemaah Haji
Pelayanan petugas haji atau PPIH di Tanah Suci menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana nilai manfaat dana haji diterjemahkan di lapangan.
Di tengah lautan manusia di sekitar Masjid Nabawi, jamaah lansia sangat rentan kehilangan arah.
Bentuk pelataran yang mirip, pintu masjid yang banyak, hingga kerumunan yang padat sering membuat mereka bingung, terutama bagi yang baru pertama kali.
Karena itu, kehadiran petugas menjadi penting. Bukan hanya untuk membantu urusan teknis, tetapi juga menenangkan jamaah.
Setiap pagi, para petugas biasanya berkumpul untuk briefing. Mereka mengenakan seragam berwarna coklat muda dengan rapi.
Bagi jamaah, seragam yang dibelakangnya betuliskan "Petugas Haji Indonesia 2026" itu bukan sekadar pakaian dinas, melainkan penanda tempat bertanya dan meminta bantuan.
"Kalau lihat seragam dengan warna ini, jamaah yang butuh bantuan biasanya langsung mendekat menghampiri," katanya.
Dalam briefing, berbagai persoalan dibahas. Mulai dari koper jamaah yang belum ditemukan, kondisi jamaah yang mungkin sakit, hingga koordinasi antar-sektor.
"Semua harus diselesaikan cepat. Jadi komunikasi juga harus cepat dan akurat," tegasnya.
Sebab, kata dia, selama musim haji, situasi bisa berubah dalam hitungan menit.
Baca juga: Uji Coba Makanan Dilakukan 3 Kali Sehari, Jemaah Haji Diimbau Perhatikan Batas Waktu Santap Makanan
Jumlah jamaah yang terus berdatangan membuat ritme kerja semakin padat. Telepon dan pesan singkat nyaris tak pernah berhenti.
Kadang Nunung baru sempat beristirahat setelah larut malam. Itu pun tidak selalu tenang.
"Kalau musim haji, HP hampir enggak pernah diam," ujarnya sambil tertawa kecil.
Di tengah padatnya pelayanan, para petugas sering harus menunda kepentingannya sendiri.
Waktu makan mundur menjadi hal biasa. Jadwal ibadah pribadi pun sering menyesuaikan situasi lapangan.
Ada kalanya Nunung hanya makan sekadarnya sambil berdiri di sela-sela pelayanan jamaah.
"Yang penting jamaah dulu," katanya singkat.
Meski begitu, ia mengaku justru menemukan makna ibadah yang berbeda selama menjadi petugas.
Dua dekade alias 20 tahun lalu, Nunung pernah datang ke Tanah Suci sebagai jamaah haji biasa.
Saat itu usianya masih cukup muda, 36 tahun, dan hampir seluruh waktunya dihabiskan di masjid.
"2006 saya berhaji. Dulu saya ingin selalu di masjid, tidak mau kehilangan momen," kenangnya.
Kini situasinya berbeda. Waktunya lebih banyak habis untuk memastikan jamaah lain bisa beribadah dengan tenang.
Namun, justru di situlah ia menemukan makna baru.
"Melayani mereka, itu juga ibadah," katanya.
Perjalanan Nunung menjadi petugas haji tidak terjadi begitu saja.
Sehari-hari, sejak 2004 silam ia bertugas mengajar di Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dan sejak 2015 lalu, ia juga terlibat aktif sebagai asesor sertifikasi pembimbing ibadah haji.
Ia terbiasa menguji kemampuan para calon pembimbing haji dari berbagai daerah, memastikan kualitas, menguji kesiapan, dan menjaga standar pelayanan.
Hingga suatu hari, ia mendengar tantangan untuk meningkatkan peran perempuan sebagai petugas haji.
"Saya awalnya biasa saja. Tapi ketika ditantang apakah bisa perempuan untuk menjadi petugas haji yang melakukan yang terbaik, disitulah saya pengin membuktikan kalau memang bisa," katanya.
Ia kemudian mengikuti proses seleksi petugas haji. Mulai dari tes CAT hingga wawancara dijalani satu per satu.
Sampai akhirnya, ia kembali datang ke Tanah Suci. Namun kali ini bukan sebagai jamaah.
Melainkan sebagai orang yang membantu jamaah lain menjalankan ibadahnya.
Baca juga: Jumlah Petugas Haji Perempuan Capai 33 Persen, Wamenhaj: Terbesar Sepanjang Sejarah
Representasi Negara
Musim haji sendiri mengubah ritme Kota Madinah. Jalanan dipenuhi bus pengangkut jamaah dari berbagai negara.
Hotel-hotel bekerja hampir tanpa jeda. Di sekitar Masjid Nabawi, manusia bergerak hampir sepanjang hari.
Di tengah arus sebesar itu, petugas PPIH Indonesia menjadi salah satu tempat bergantung bagi jamaah tanah air.
Mereka tidak hanya diminta memastikan jamaah tiba di hotel atau menemukan rombongannya kembali.
Lebih dari itu, mereka menjadi representasi pelayanan negara bagi ratusan ribu jamaah Indonesia di Tanah Suci.
Karena itulah, sejak sebelum keberangkatan, para petugas terus diingatkan bahwa orientasi utama penyelenggaraan haji tahun ini adalah pelayanan kepada jamaah.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, dalam pembekalan PPIH menegaskan hal itu.
Bahwa seluruh proses penyelenggaraan haji harus berpijak pada kepastian layanan, kepatuhan terhadap aturan, serta tanggung jawab yang bisa dipertanggungjawabkan.
"Petugas harus memenuhi SOP untuk mendahulukan kepentingan jemaah. Bahkan jika itu membuat petugas tidak bisa menjalankan ritual hajinya sendiri, tetap utamakan pelayanan."
"Positif petugas berarti positif negara, dan negatif petugas berarti negatif negara," tegasnya di Asrama Haji Pondok Gede, Kamis (23/4/2026).
Arahan itu terasa relevan dengan situasi yang dihadapi petugas di lapangan setiap hari.
Mereka banyak berhadapan dengan jamaah yang baru pertama kali bepergian ke luar negeri yang didominasi oleh lansia.
Dan di tengah jutaan manusia yang bergerak hampir tanpa henti di Madinah maupun Makkah, pelayanan tidak cukup hanya mengandalkan sistem.
Dibutuhkan kepekaan, kesabaran, dan kesiapan mengambil keputusan cepat ketika jamaah mengalami kendala.
Data Kementerian Haji dan Umrah menunjukkan lebih dari 55 persen jamaah Indonesia merupakan perempuan.
Sementara sekitar seperempat jamaah masuk kategori lansia, dan sebagian besar dari kelompok itu juga perempuan.
Pemerintah sendiri tahun ini menekankan konsep haji yang lebih ramah terhadap lansia, disabilitas, dan perempuan.
Kebijakan itu kemudian tercermin dalam komposisi petugas haji Indonesia tahun 2026.
Sebanyak 33 persen petugas yang diberangkatkan merupakan perempuan—jumlah tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan haji Indonesia.
Kehadiran petugas perempuan menjadi penting karena banyak persoalan jamaah yang membutuhkan pendekatan lebih personal dan sensitif.
Bagi petugas seperti Nunung, kehadiran perempuan di lapangan memang sering menjadi penghubung yang memudahkan komunikasi dengan jamaah.
Tidak sedikit jamaah perempuan lansia yang lebih nyaman bertanya atau meminta bantuan kepada sesama perempuan, terutama ketika berada dalam kondisi lelah, panik, atau kebingungan di tengah keramaian.
Namun pada akhirnya, siapa pun petugasnya, satu pesan yang terus diingatkan pemerintah tetap sama: pelayanan adalah inti dari seluruh penyelenggaraan haji.
MenHaj menegaskan bahwa disiplin, kesiapan, dan rasa tanggung jawab menjadi fondasi utama pelayanan jamaah.
"Tanpa disiplin, pelayanan akan kehilangan ruhnya. Hadirkan negara secara nyata melalui pelayanan prima. Setiap pelayanan yang diberikan kepada jemaah adalah wajah negara," tegasnya.
Pesan itu pula yang perlahan menjadi pegangan banyak petugas selama berada di Tanah Suci.
Bahwa di balik seragam yang mereka kenakan, ada tanggung jawab untuk memastikan jamaah Indonesia bisa menjalankan ibadah dengan lebih tenang—mulai dari hal besar hingga bantuan-bantuan kecil yang sering kali tampak sederhana, tetapi berarti besar bagi jamaah.
Baca juga: Alasan Calon Petugas Haji 2026 Dilatih Secara Semi-Militer
Manfaat dari Pengelolaan Dana Haji
Di balik berbagai layanan yang diterima jamaah selama berada di Tanah Suci, ada proses panjang yang sebenarnya telah dimulai sejak bertahun-tahun sebelum keberangkatan.
Ketika calon jamaah pertama kali menyetorkan biaya haji dan masuk daftar tunggu, dana tersebut tidak hanya disimpan, tetapi dikelola agar tetap aman sekaligus memberi nilai manfaat bagi penyelenggaraan ibadah haji.
Di Indonesia, pengelolaan dana haji dilakukan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
Dana itulah yang kemudian menjadi salah satu penopang berbagai layanan yang diterima jamaah, mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, layanan pendampingan, hingga operasional petugas haji yang bekerja mendampingi jamaah selama di Arab Saudi.
Artinya, pelayanan yang dirasakan jamaah di lapangan sejatinya bukan hadir begitu saja.
Di balik petugas yang membantu jamaah tersesat, menyediakan kursi roda, mengatur konsumsi, hingga memastikan lansia mendapatkan pendampingan, ada sistem pengelolaan dana yang menopang seluruh proses tersebut agar tetap berjalan.
BPKH menyebut nilai manfaat hasil pengelolaan dana haji menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga keberlangsungan layanan jamaah di tengah biaya penyelenggaraan haji yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada musim haji 2026, Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) mencapai sekitar Rp87 juta per jamaah. Namun jamaah hanya membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) sekitar Rp54 juta.
Selisihnya ditopang dari nilai manfaat hasil pengelolaan dana haji.
Selain itu, jamaah juga menerima berbagai dukungan layanan lain, termasuk living cost yang dibagikan saat masuk embarkasi sebagai bekal kebutuhan selama berada di Tanah Suci.
Karena itu, pelayanan yang diterima jamaah pada akhirnya tidak hanya menjadi soal teknis operasional di lapangan, tetapi juga wujud pemanfaatan dana umat yang dikelola untuk kepentingan jamaah itu sendiri.
Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menegaskan bahwa pengelolaan dana haji diarahkan agar memberi dampak langsung terhadap kualitas layanan jamaah.
“BPKH berkomitmen menjaga dana haji tetap aman, dikelola secara hati-hati, dan memberi manfaat berkelanjutan bagi jemaah,” ujarnya, dikutip dari laman BPKH.
Dalam konteks itulah, pelayanan petugas haji di Tanah Suci menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana nilai manfaat dana haji diterjemahkan di lapangan.
Mulai dari layanan ramah lansia, pendampingan jamaah disabilitas, sistem identitas digital, hingga kehadiran petugas perempuan untuk membantu jamaah yang membutuhkan pendekatan lebih personal.
Semua diarahkan pada satu tujuan yang sama: memastikan jamaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan lebih tenang.
Sebab bagi sebagian besar jamaah Indonesia, perjalanan haji bukan perjalanan singkat yang dipersiapkan dalam hitungan bulan.
Banyak yang menunggu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci.
Dan ketika kesempatan itu akhirnya datang, pelayanan yang baik menjadi bagian penting agar perjalanan spiritual tersebut dapat dijalani dengan lebih khusyuk.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Petugas-Haji-PPIH-2026.jpg)