Minggu, 11 Januari 2026

Pameran erotis Jepang dibuka di Inggris

Pameran seni erotisme ala Jepang, populer dengan nama shunga, dibuka di Inggris dengan 150 lukisan kuno sebagian berasal dari abad 16-17.

British Museum saat ini memamerkan 150 lukisan seni erotis khas Jepang dalam pameran seni sensualnya yang paling berani.

Seni erotis ala Jepang, shunga, menunjukkan gambar-gambar adegan dengan sudut pandang seks yang sangat berlainan dengan perspektif Eropa pada masanya.

Dalam pameran ini lukisan intim bisa disaksikan pengunjung dengan setting Jepang di masa lalu yang saat itu tak banyak diketahui dunia.

Sebagian besar gambar dibuat pada sebuah papan kayu, dibuat di Tokyo pada abad 16 hingga 18 dan menunjukkan beragam adegan seks yang kadang kala sangat eksplisit.

Istilah shunga sendiri sebenarnya berarti "lukisan musim semi"; sebuah eufimisme dari seni erotis yang subur saat warga Tokyo tumbuh cepat sementara kontak dengan negara barat dilarang.

Lukisan semacam ini juga dikenal dengan istilah "gambar bantal" atau "gambar gurauan" dan biasanya dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa subyeknya tengah menikmati hubungan seksual.

'Seni tinggi'

Sebagian besar melukiskan laku asmara antara perempuan dan lelaki, tetapi ada juga gambaran pasangan sesama laki-laki atau antar perempuan, ada juga gambaran tindak seksual berkelompok.

Lukisan seperti ini kadang kala dijual dalam satu album berisi 12 gambar, dengan beda-beda lukisan situasi hubungan senggama.

Dengan membeli satu koleksi sekaligus, pembeli tak akan kesusahan terpaksa menunjukkan gambar mana yang paling mereka minati dalam kumpulan tersebut.

Shunga

Shunga juga melukiskan laku asmara sesama jenis baik gay maupun lesbian.

Karena dianggap cukup sensitif, pameran ini dibatasi hanya dapat ditonton oleh pengunjung British Museum usia 16 tahun keatas.

Sebagian galeri di masa lalu memandang seni shunga sebagai hal yang saru dan menolak memamerkannya. Namun beberapa tahun belakangan shunga mulai diterima sebagai bentuk seni kelas tinggi yang memberi titik terang tentang politik seksualitas serta jenis kelamin dalam abad moderen Jepang.

"Shunga adalah seni (yang) dalam. Berbeda dari sekedar pornografi biasa," bela Aki Ishigami dari Universitas Ritsumeikan, Tokyo yang turut serta dalam seminar akademik terkait pameran ini di London.

Menurut Ishigami gambar-gambar ini dinikmati pula oleh kelompok wanita dan menjadi bagian dari "seni dari dunia mengambang" yang mengambil isnpirasi dari "Distrik Hura-hura" di Tokyo, dimana musisi, aktor serta pekerja seks memberikan layanan hiburan pada tamu yang membayar.

Kadang kala album shunga malah diberikan pada perempuan muda sebelum menikah agar mereka tahu apa yang kira-kira bakal terjadi di malam pengantin.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved