Sabtu, 30 Agustus 2025

Cerita Dua Guru Asal Australia Mengajar Siswa SMA di Bandung

Ia sendiri tak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan para pelajar Indonesia akan meninggalkan kesan mendalam.

Editor: Hasanudin Aco
Foto: Akun Facebook Mia Damayanti
Nicole Brown tengah mengajar mata pelajaran olahraga kepada para siswa SMA Negeri 1 Cisarua Kab. Bandung Barat. 

TRIBUNNEWS.COM, AUSTRALIA - Meski singkat, Nicole Brown dan Lisa Roe sangat terkesan dengan kunjungan mereka ke Indonesia. Singgah di Jakarta dan Denpasar, dua guru Australia ini sangat menikmati budaya Indonesia. Namun, sepekan di Bandung dan berinteraksi dengan para pelajar di sana-lah yang membuat mereka belajar banyak.

Indonesia di mata Nicole, kini, sungguh berbeda dengan Indonesia yang ada dalam pikirannya saat belum menginjakkan kaki di tanah khatulistiwa.

“Saya tahu orang-orang Indonesia terkenal ramah dan menyenangkan, tapi saya cukup kaget ketika mereka cukup tahu banyak soal Australia, dan merupakan sosok yang pekerja keras,” ujarnya kepada ABC.

Ia sendiri tak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan para pelajar Indonesia akan meninggalkan kesan mendalam.

“Anak-anak mencoba berbicara seperti orang Australia seperti menyapa ‘G’day mate’, mereka juga mempelajari aksen Australia, dan...mereka bahkan menyanyikan lagu kebangsaan Australia dengan benar di depan kami berdua,” urai guru olahraga dan geografi ini dengan tawa renyah.

Adalah ‘Collaborative Teaching Learning”, program pertukaran pengajar dan kerjasama antar-sekolah yang membawa Nicole Brown dan Lisa Roe ke Indonesia.  

Program yang digagas Asosiasi Sekolah Katolik Australia Selatan (CESA) bekerjasama dengan Asia Education Foundation yang bernaung di bawah Universitas Melbourne; dan Pemerintah Australia melalui AusAid ini, mengirim dua guru asal Australia Selatan ini ke Jawa Barat untuk melakukan studi banding ke 7 SD dan 1 SMA di Kabupaten dan Kota Bandung, selama 2 pekan.

“Sebelum terjun ke dunia pendidikan, saya sempat bekerja di bidang industri IT selama 7 tahun. Dan kemudian saya mendapatkan kesempatan ini, benar-benar luar biasa,” aku Lisa.

Guru matematika dan fisika di Cardijn College ini mengingat betul bagaimana reaksi siswa-siswi Indonesia ketika ia dan rekannya Nicole datang ke kelas-kelas untuk mengajak mereka berinteraksi.

“Beberapa dari mereka tampak malu-malu, tapi semuanya sangat antusias. Yang paling saya ingat adalah ketika saya mencoba mengajarkan matematika,” ungkapnya kepada Nurina Savitri dari ABC Internasional.

Ia lalu menyambung, “Mereka punya PR lalu saya meminta untuk membahasnya di depan kelas. Mereka menyampaikan soal dalam bahasa Indonesia, dan karena bahasa Indonesia saya sangat trebatas, saya menjawab dalam bahasa Inggris, menarik sekali, dan akhirnya terselesaikan juga.”

Lisa mengaku,  murid-murid Indonesia memiliki kemampuan matematika yang sangat bagus, namun ia memiliki masukan bagi para generasi penerus di negara tetangganya ini. “Mereka benar-benar berusaha keras untuk mendapat nilai yang bagus, saya menyarankan agar siswa SMA Indonesia, mungkin, bisa belajar lebih banyak tentang masalah-masalah yang sebenarnya terjadi di dunia,” kemukanya.

Ia kemudian menuturkan, “Anak SMA di Australia tak mempelajari banyak mata pelajaran, jadi ini memberi mereka kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Ini perbedaan utamanya. Mereka juga tak harus menghadapi soal ujian yang berat seperti di Indonesia.”

Mia Damayanti, guru biologi dan Kepala Kerjasama Luar Negeri di SMA Negeri 1 Cisarua, salah satu sekolah yang dikunjungi Nicole dan Lisa, mengatakan, kedatangan dua guru Adelaide ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi murid-muridnya.

“Banyak anak-anak kami yang baru pertama kali bertemu dengan foreigner. Mereka pun bilang ke saya ‘Bu, kok bahasa inggrisnya berbeda dengan guru bahasa inggris di sekolah kita,?’,” kisahnya.

Halaman
12
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan