Cerita Dua Guru Asal Australia Mengajar Siswa SMA di Bandung
Ia sendiri tak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan para pelajar Indonesia akan meninggalkan kesan mendalam.
Editor:
Hasanudin Aco
Mia juga mengaku ia sempat khawatir atas kedatangan kedua guru asing itu lantaran merasa toilet di sekolahnya, yang terletak di daerah pinggiran kota, tak sebanding dengan toilet sekolah yang ada di Australia.
“Ada rekan guru yang bilang ke saya ‘Kenapa mereka diajak ke sini, kan malu?’ eh ternyata mereka malah sudah persiapan sekali, walau memang fasilitas yang kami punya, kalau dibanding Australia, masih jauh lah..soal kebersihan..kamar mandi,” utara perempuan yang sempat tinggal di Adelaide selama 2 tahun ini.
Meski demikian, bagi Mia, program studi banding ini memiliki manfaat yang besar bagi pelajar di sekolahnya dan juga merupakan kesempatan untuk membuktikan diri bagi sekolah yang dikunjungi.
“Sewaktu anak-anak belajar menghafal lagu kebangsaan Australia, mereka mengatakan ‘Syairnya menyentuh hati kami, sederhana tapi makna nasionalisme-nya dalam’. Jadi menurut saya, anak-anak itu belajar tidak hanya dari bahasa Inggrisnya saja, tidak hanya dari metode pengajarannya saja, tapi ada hal lain,” ujar perempuan berjilbab ini.
Sekembalinya Lisa dan Nicole ke Australia, program ini mengharapkan agar para guru di Bandung juga bisa berkunjung ke Adelaide untuk melakukan hal serupa, pada awal tahun 2015.
Pengalaman unik menjadi ‘houseparent’
Selain mengunjungi sekolah-sekolah, Nicole dan Lisa juga tinggal di rumah seorang warga lokal selama studi bandingnya di Bandung.
Mia kebetulan menjadi tuan rumah mereka. Selama dua pekan, keduanya tinggal di rumah Mia dan mencoba beradaptasi dengan suasana ala keluarga Indonesia.
“Mereka tinggal di rumah saya, saya seperti ‘houseparent’, ternyata ga gampang loh. Mereka sepertinya lebih siap, karena ternyata banyak sekali bawaannya, sementara saya sempat bingung mengatur makanan dan sebagainya,” ujarnya kepada ABC.
Ia lantas mengisahkan pengalaman unik saat Idul Adha tiba. “Mereka itu mau ikut solat ied, mereka sudah siapkan syal, baju panjang, mereka juga ikut gerakan solat walau mungkin bingung ya kok gerakannya ganti-ganti tiap berapa detik,” tutur Mia sambil terkekeh.
Tradisi lebaran yang penuh dengan makanan-pun nampaknya memantik cerita lucu dari keduanya. “Lisa dan Nicole kan juga ikut keluarga saya berkunjung ke rumah saudara-saudara. Nah tiap berkunjung ke satu rumah, selalu disediakan makanan. Akhirnya mereka bilang, ‘Mia kalau hari ini mengunjungi 7 rumah berarti kita akan 7 kali makan?’,” kenang Mia tanpa bisa menahan tawanya.
Ia pun berharap agar para guru di Indonesia juga memiliki kesiapan mental untuk menjadi peserta pertukaran pengajar, seperti halnya Nicole dan Lisa yang ia nilai mampu beradaptasi dengan budaya Indonesia.