Kamis, 21 Mei 2026

Memotong rumah dan tinggal seatap dengan 20 orang agar tidak digusur

Warga Kampung Tongkol melakukan berbagai upaya agar lingkungannya tidak lagi dituduh kumuh dan menyebabkan banjir.

Tayang:

Rumah Contoh adalah rumah tiga lantai, untuk menyiasati lebar rumah yang tinggal lima meter setelah dipotong. Rumah disekat-sekat. "Ada tujuh keluarga yang tinggal di sini (satu atap Rumah Contoh), ada 21 jiwa yang hidup di dalamnya," tutur Gugun yang merupakan penghuni salah satu sekat Rumah Contoh.

Dibantu kelompok arsitek dari Architecture Sans Frontieres Indonesia (ASF-ID), Rumah contoh dibangun dengan material ramah lingkungan; bata ringan berpori, kayu daur-ulang dan bambu.

sungai ciliwung

Sungai di depan permukiman warga di Kampung Tongkol relatif bersih karena warga tidak lagi membuang sampah ke sungai.

"Ini gaya hidup baru," tutur Gugun sambil tersenyum. "Jarak rumah dengan sungai, cukup. Lalu ada tanki septik sendiri di bawah rumah, sehingga kotoran tidak lagi dibuang ke sungai. Kamar mandi juga di-share bareng-bareng, jadi gak sendiri-sendiri kayak dulu lagi, juga ada air bersih mengalir."

Bagaimana dengan sampah?

Gugun pun mengajak saya masuk ke salah satu sekat (ruang) Rumah Contoh. Dengan luas sekitar dua setengah meter kali lima meter, ruang itu dihuni oleh satu keluarga.

Ruang yang tidak besar itu pun dibagi dua. Sekitar dua pertiga untuk bagian depan dan sepertiga untuk dapur dan tempat mencuci di bagian belakang.

rumah contoh

Bagian depan rumah yang digunakan sebagai 'tempat apa saja,' termasuk bekerja.

Dengan agak tergelak, Gugun menceritakan fungsi ruang depannya, "Ini semuanya di sini. Satu ruangan untuk tidur, makan, nonton TV, ruang keluarga, terima tamu, satu ruangan untuk semua fungsi," akunya sambil menunjuk-nunjuk ke arah lantai.

"Rumah Contoh ini cuma perangsang sebenarnya," dia lanjut bercerita. "Harapannya diaplikasikan oleh rumah-rumah lain. Sekarang 164 rumah di sini semuanya sudah memotong rumah mereka. Dari jumlah itu, yang sudah buat tanki septik sudah 22 rumah, memang masih jauh tetapi sudah ada kemajuan, nggak nol."

Kampung Tongkol

Tong sampah yang ditemukan di setiap 10 meter di Kampung Tongkol.

Sementara untuk sampah, warga Kampung Tongkol mengaku "tidak lagi membuangnya ke sungai." Ketika saya di sana, sungai memang relatif bersih. Selain itu, di sepanjang permukiman, setiap 10 meter ada tong sampah bewarna hijau.

Warga juga mengurangi sampah dengan "tidak lagi belanja sayur pakai plastik, masing-masing sayur diplastikin. Ada lima perwakilan warga yang dijadikan pelopor, dijadikan contoh. Mereka bawa tas sendiri kalau belanja. Nah, yang bawa tas ini, kalau belanja di atas Rp15.000, dapat diskon Rp500. Kita sudah buat kesepakatan sama tukang sayurnya."

Cara itu, disebut Gugun terbukti mengurangi sampah hingga 88%.

Kampung Tongkol

Warga membuat kebun kecil di sepanjang pinggir sungai.

Dengan segala perubahan yang dilakukan, saya penasaran dengan pendapat lain warga Kampung Tongkol. Saya bertemu Ratna, yang sudah 38 tahun tinggal di sini.

"Beda banget. Dulu rumah (saya) jelek. Airnya air sumur, kalau nyari air minum harus dibeli. Sekarang sudah serba ada," ceritanya dengan penuh semangat.

Ratna

Ratna yang sudah 38 tahun tinggal di Kampung Tongkol menolak untuk direlokasi.

Ketika ditanya, mengapa tidak mau pindah ke rumah susun dengan jaminan tempat tinggal yang lebih pasti, Ratna menjawab, "di sini sudah enak suasananya."

"Kalau dipindah ke rusun kan bayar. Kalau Bapaknya kerja, nggak apa, kalau nggak kerja, dari mana dapat uang sewanya. Kalau (kami digusur), sediain tempat yang kayak begini lagi, sendiri, bukan rusun, karena sekarang sudah enak, nggak kebocoran," ungkapnya.

Tetap ilegal?

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved