Memotong rumah dan tinggal seatap dengan 20 orang agar tidak digusur
Warga Kampung Tongkol melakukan berbagai upaya agar lingkungannya tidak lagi dituduh kumuh dan menyebabkan banjir.
Sejalan dengan itu, salah satu arsitek yang ikut mengerjakan Rumah Contoh, Andrea Fitrianto, mengungkapkan jarak tiga sampai lima meter itu sudah cukup untuk memberikan akses bagi kebutuhan dasar seperti "gerobak sampah dan mobil pemadam kebakaran."
Andrea Fitrianto dari Architecture Sans Frontieres Indonesia sedang berbincang dengan Ratna.
"Kalau dibuat sampai 15 meter, artinya kita mengubah pola lingkungan dari yang awalnya pejalan kali, menjadi yang bisa diakses mobil. Sebelumnya warga bisa bincang-bincang pinggir sungai, kemudian akan bising karena mobil bisa lewat dan ujung-ujungnya dikomersialkan, akan dibangun ruko dan kafe, sehingga hilang ciri khas kampung," papar Andrea.
Meskipun begitu, keputusan menggusur atau tidak, ada di tangan Pemprov DKI Jakarta. "Kita hanya ingin membuktikan bahwa permukiman di pinggir sungai itu mungkin. Kita hanya ingin melawan semua mindset publik dan pemerintah itu," pungkas Gugun.