Agama Jain di India : Mengapa anak-anak muda ini menolak kenikmatan dunia?
Ratusan anak muda pemeluk agama Jain di India memilih untuk menolak kenikmatan dunia dan jumlahnya terus meningkat.
Pemimpin komunitas Jain mengaitkan kenaikan itu dengan tiga hal: kekecewaan yang tumbuh di kalangan anak muda dengan tekanan dunia modern, guru agama yang mengadopsi teknologi modern untuk mempermudah masyarakat mengutarakan gagasan religius yang mereka miliki, dan terakhir, sebuah superstruktur retret keagamaan yang memungkinkan anak muda bereksperimen dengan kehidupan biara, jauh sebelum mereka memilih untuk berkomitmen menjalankannya.
Tekanan kehidupan modern
Tekanan ekonomi dan sosial di dunia yang "terlalu-saling-terhubung" turut menyebabkan terjadinya fenomena ini, tutur Dr Joshi.
"Apa yang terjadi di New York, atau apa yang terjadi di Eropa, Anda melihatnya pada saat yang sama. Sebelumnya, kompetisi kita terbatas hanya sampai jalan di mana kita tinggal.
"Kini ada kompetisi dengan dunia," katanya, yang menambahkan bahwa budaya Fomo (fear of missing out), alias takut ketinggalan, membuat lebih banyak anak muda mencoba dan melarikan diri dari segalanya.

"Ketika Anda melakukan deeksha atau menolak keduniawian, tingkat spiritualis, derajat sosial, derajat keagamaan Anda menjadi sangat tinggi, bahkan orang terkaya pun akan turun dan membungkuk pada Anda," tambahnya.
Pooja Binakhiya, fisioterapis yang melakukan deeksha bulan lalu, mengatakan bahwa fokus hidupnya benar-benar berubah setelah ia menjadi seorang biarawati.
Jika dulu hari-harinya diisi dengan masalah keluarga, pertemanan, penampilan dan karir, ia mengatakan kini ia tak lagi harus memikirkan bagaimana ia sebaiknya tampil di hadapan teman-temannya.
"Di sini kami hanya memikirkan tentang jiwa, jiwa dan jiwa," tuturnya dengan tenang.
'Guru' media sosial
Beberapa hari menjelang deeksha, Dhruvi mengatakan bahwa gurunya adalah "segalanya baginya".
"Ia adalah dunia saya. Apapun yang dikatakannya, itu dia."
Hampir semua calon biarawan dan biarawati Jain berbicara dengan kehangatan yang sama dengan guru-guru mereka. Jelas bahwa para pemimpin spiritual ini menginspirasi kepatuhan dan kesetiaan yang luar biasa besar.
Dr Doshi menuturkan bahwa hal itu tidak selalu demikian dulu.
"Sebelumnya para pertapa lebih bersikap tertutup dan hanya tertarik pada pemurnian diri mereka sendiri," ujarnya. Namun kini, tambahnya, mereka lebih terlibat dan secara aktif mendekati kaum muda pada khususnya.