Agama Jain di India : Mengapa anak-anak muda ini menolak kenikmatan dunia?
Ratusan anak muda pemeluk agama Jain di India memilih untuk menolak kenikmatan dunia dan jumlahnya terus meningkat.
Hingga setidaknya 10 tahun lalu, umat Jain hanya bergantung pada literatur yang ditulis dalam bahasa India Kuno seperti Ardha Magadhi atau Sansekerta. Kini, literatur keagamaannya hadir dalam berbagai bahasa, terutama Bahasa Inggris.
"Kisah tentang agama Jain dibuat film-film pendek, yang bisa dibagikan ke media sosial. Membaca buku mungkin tidak penting tapi dengan hanya menonton satu cerita kecil dalam satu-dua menit bisa sangat memengaruhi anak-anak muda sebenarnya," kata Dr Doshi.
Video-video ini, yang kebanyakan beredar melalui pesan WhatsApp, adalah film-film yang diproduksi dengan baik yang seringkali mengglorifikasi penolakan keduniawian dan terkadang bahkan menggambarkan biarawan/wati sebagai pahlawan super.
Muni Jinvatsalya Vijay Maharajsaheb, biarawan Jain, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, film-film yang diproduksi berbagai LSM Jain telah memainkan peran penting dalam membuat akses keagamaan semakin mudah dicapai oleh pengikut-pengikut muda.
Ia sendiri telah mempublikasikan sejumlah video YouTube yang telah ditonton jutaan kali.
"Jika seseorang ingin mendekati anak-anak muda, lebih mudah untuk menghampiri mereka dibanding mencoba membawa mereka ke sini," katanya. "YouTube adalah pilihan terbaik karena itulah tempat di mana anak-anak muda menghabiskan sebagian besar waktu mereka ketika tengah online".
Retret keagamaan
Dhruvi mengatakan bahwa sebuah Updhyan - retret selama 48 hari yang ia ikuti lima tahun lalu - menjadi "percikan awal yang membuatku memikirkan kehidupan biarawati".
Di bawah kepemimpinan seorang guru, retret itu memperbolehkan penganut Jain biasa untuk mencicipi kehidupan biarawan/wati - tanpa sepatu, listrik dan mandi.
Kebanyakan biarawan/wati pemula menyoroti sisi melelahkan retret itu - di mana para guru menasihati mereka untuk menolak dunia yang "penuh dengan penderitaan" - sebagai momen ketika mereka memutuskan untuk menjadi biarawan/wati.
Namun retret semacam itu tidak bisa dilakukan sekali saja.
Hitesh Mota, yang menggelar deeksha di Mumbai, mengatakan bahwa kebanyakan pesertanya menjalani serangkaian retret pendek untuk "secara perlahan membangun kepercayaan diri bahwa ya, saya bisa hidup seperti ini hidup seperti ini untuk sedikit lebih lama lagi di lain kesempatan".
"Kau tahu ketakutan kehidupan biarawan/wati, ketakutan mengorbankan segalanya. Ketakutan itu dihilangkan selama retret. Ini adalah langkah pertamanya, semacam kamp pelatihan untuk menjadi seorang biarawan/wati."

Bulan lalu, sebuah retret di kota Nashik berakhir dengan sebuah prosesi perayaan di mana kereta-kereta kuda mengangkut 600 peserta yang mengenakan pakaian berkilauan. Kebanyakan berusia di bawah 25 tahun dan kabarnya ratusan di antaranya mengungkapkan hasrat untuk menjalani deeksha.
Salah satunya adalah Het Doshi yang masih berusia 12 tahun.