Mengapa India ingin melacak pesan-pesan WhatsApp dan di media sosial?
Pemerintah India berniat untuk mengawasi dan mencegat pesan-pesan di aplikasi WhatsApp dan media sosial lain dan segala 'perantara' untuk memerangi
Rencana pemerintah India untuk mengawasi, mencegat dan melacak pesan di media sosial membuat khawatir pegiat hak sipil - juga perusahaan media sosial. Prasanto K Roy meninjau kemungkinan dampak kebijakan itu.
Kementerian Informasi Teknologi India berencana menerbitkan rangkaian aturan pada bulan Januari 2020 yang berlaku bagi aplikasi pembagi dan pengirim pesan.
Istilah yang dipakai di sana cukup umum, sehingga mencakup juga bisnis daring dan berbagai tipe aplikasi dan situs web.
Langkah ini merupakan tanggapan terhadap banyaknya berita palsu atau hoaks yang mengakibatkan kekerasan massa yang memakan 40 korban jiwa di tahun 2017 dan 2018. Desas-desus paling sering terjadi adalah tentang penculikan anak, disebarkan lewat WhatsApp dan aplikasi lain.
Pesan-pesan tanpa dasar ini telah menyebabkan kekerasan massa yang memakan korban tak bersalah.
- Kemenkominfo cabut pembatasan akses video dan foto di media sosial termasuk WhatsApp
- Whatsapp, Facebook dan Instagram alami gangguan bersamaan
- WhatsApp menerapkan aturan baru setelah terjadi pembunuhan keroyokan
Sekali pesan "diteruskan" ke puluhan ribu pengguna dalam hitungan jam, maka mustahil untuk ditangkal.
Contohnya di tahun 2018 ketika korban kekerasan massa justru adalah pegawai pemerintah yang berkeliling ke kampung-kampung membawa pengeras suara menyerukan penduduk agar jangan percaya begitu saja pada desas-desus yang disebarkan media sosial.
Ada 50 kasus kekerasan massa yang dipicu oleh informasi palsu yang tersebar di media sosial dalam dua tahun terakhir di India. Banyak platform termasuk Facebook, YouTube, dan Sharechat, memainkan peran di sana.
Namun WhatsApp - yang dimiliki Facebook - sejauh ini adalah yang paling populer.
Penggunanya secara global 1,5 miliar dan di India saja berjumlah 400 juta. Maka aplikasi ini jadi fokus diskusi soal penyebaran informasi sesat.
- Mati dibakar hidup-hidup karena desas-desus di WhatsApp
- Diancam blokir, penyedia GIF Whatsapp hapus konten porno
- Seberapa efektif pembatasan video dan foto di media sosial halau hoaks?
Tahun 2018 sesudah peristiwa kekerasan massa, pemerintah meminta WhatsApp membantu menghentikan penyebaran "pesan-pesan yang eksplosif dan tak bertanggung jawab" di aplikasi mereka.
WhatsApp melakukan beberapa langkah, yaitu membatasi kemampuan meneruskan pesan lima kali saja setiap kalinya, serta mencantumkan label "pesan terusan" pada pesan-pesan seperti itu.
Pemerintah beranggapan itu tak cukup. Mereka ingin WhatsApp menggunakan alat otomatis untuk mengawasi pesan - seperti di China - dan menghalangi pesan-pesan tertentu.
Pemerintah juga ingin pengirim asli pesan dan video tertentu bisa dilacak.