BBC

Mengapa India ingin melacak pesan-pesan WhatsApp dan di media sosial?

Pemerintah India berniat untuk mengawasi dan mencegat pesan-pesan di aplikasi WhatsApp dan media sosial lain dan segala 'perantara' untuk memerangi

Rencana pemerintah India untuk mengawasi, mencegat dan melacak pesan di media sosial membuat khawatir pegiat hak sipil - juga perusahaan media sosial. Prasanto K Roy meninjau kemungkinan dampak kebijakan itu.

Kementerian Informasi Teknologi India berencana menerbitkan rangkaian aturan pada bulan Januari 2020 yang berlaku bagi aplikasi pembagi dan pengirim pesan.

Istilah yang dipakai di sana cukup umum, sehingga mencakup juga bisnis daring dan berbagai tipe aplikasi dan situs web.

Langkah ini merupakan tanggapan terhadap banyaknya berita palsu atau hoaks yang mengakibatkan kekerasan massa yang memakan 40 korban jiwa di tahun 2017 dan 2018. Desas-desus paling sering terjadi adalah tentang penculikan anak, disebarkan lewat WhatsApp dan aplikasi lain.

Pesan-pesan tanpa dasar ini telah menyebabkan kekerasan massa yang memakan korban tak bersalah.

Sekali pesan "diteruskan" ke puluhan ribu pengguna dalam hitungan jam, maka mustahil untuk ditangkal.

Contohnya di tahun 2018 ketika korban kekerasan massa justru adalah pegawai pemerintah yang berkeliling ke kampung-kampung membawa pengeras suara menyerukan penduduk agar jangan percaya begitu saja pada desas-desus yang disebarkan media sosial.

Media sosial yang populer
Getty Images
Aturan ini berpeluang untuk mempengaruhi semua jenis layanan media sosial dan berbagi pesan, bahkan situs web secara keseluruhan.

Ada 50 kasus kekerasan massa yang dipicu oleh informasi palsu yang tersebar di media sosial dalam dua tahun terakhir di India. Banyak platform termasuk Facebook, YouTube, dan Sharechat, memainkan peran di sana.

Namun WhatsApp - yang dimiliki Facebook - sejauh ini adalah yang paling populer.

Penggunanya secara global 1,5 miliar dan di India saja berjumlah 400 juta. Maka aplikasi ini jadi fokus diskusi soal penyebaran informasi sesat.

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved