Kamis, 9 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Sikap Plin-plan Trump Hadapi Iran: Marah, Longgarkan Waktu, Ancam Kasar, Melunak Gencatan Senjata

Presiden Amerika Serikat menunjukkan sikap berubah-ubah dalam menghadapi Iran, mulai dari ancaman kehancuran total hingga menunda serangan.

|

Ringkasan Berita:
  • Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap tidak konsisten: dari ancaman ekstrem hingga penundaan serangan terhadap Iran.
  • Ultimatum pembukaan Selat Hormuz menjadi titik utama tarik-ulur kebijakan.
  • Meski sempat mengancam perang besar, Trump akhirnya menyetujui gencatan senjata dua minggu.

 

TRIBUNNEWS.COM - Sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran menuai sorotan setelah serangkaian pernyataan dan kebijakan yang dinilai tidak konsisten dalam beberapa pekan terakhir.

Kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan sendiri pada Selasa malam (7/4/2026), Trump secara mengejutkan memutuskan untuk menangguhkan ancaman serangan terhadap Iran

Keputusan ini diambil setelah sebelumnya ia berulang kali mengeluarkan ancaman keras.

Bahkan, hingga menyatakan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika tidak ada kesepakatan.

Melalui platform Truth Social, Trump mengumumkan bahwa ia akan menunda pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Teheran membuka kembali Selat Homuz. 

Diketahui Selat Hormuz merupakkan jalur penting, lantaran 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur yang ada di wilayah Iran tersebut.

Pihak Iran kemudian mengonfirmasi menerima gencatan senjata sementara tersebut dan menyatakan lalu lintas di selat Hormuz akan diizinkan selama periode itu, yakni 2 minggu.

Namun, keputusan ini diyakini hanya menjadi episode terbaru dari rangkaian sikap Trump yang berubah-ubah, dikutip dari AP News, Rabu (8/4/2026).

Baca juga: Kondisi Mojtaba Khamenei Diisukan Kritis, Kekuasaan Iran Dipertanyakan di Tengah Gencatan Senjata

Sikap Plin-plan Iran

Selama berminggu-minggu sebelumnya, diketahui Trump kerap mencampurkan ancaman militer dengan pernyataan optimistis soal negosiasi dengan Iran, bahkan dalam satu pernyataan yang sama.

Terlihat pada 21 Maret 2026, Trump mengancam akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam. 

Namun, hanya 12 jam sebelum tenggat, ia justru mengumumkan adanya sebuah percakapan produktif dan menunda serangan selama lima hari.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 26 Maret, Trump kembali mengancam dengan nada keras:

Mereka sebaiknya segera serius, sebelum terlambat, karena begitu itu terjadi, TIDAK ADA JALAN KEMBALI, dan itu tidak akan menyenangkan!” bunyi Trump dalam ancamannya.

Meski demikian, pada hari yang sama ia kembali memperpanjang tenggat waktu hingga 10 hari, sembari menyebut ada negosiasi terkait konflik AS-Israel Vs Iran yang berjalan sangat baik.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved