2.819 Dokter di 59 Rumah Sakit Jepang Tak Dibayar Gajinya Saat Bertugas di RS Universitas

Pemerintah Jepang menemukan sebanyak 2.819 orang dokter di 59 rumah sakit universitas di Jepang yang tidak dibayar saat bekerja di rumah sakit.

2.819 Dokter di 59 Rumah Sakit Jepang Tak Dibayar Gajinya Saat Bertugas di RS Universitas
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Sains dan Olahraga Jepang di Kasumigaseki Tokyo. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pemerintah Jepang melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi telah menemukan sebanyak 2.819 orang dokter di 59 rumah sakit universitas di Jepang yang tidak dibayar saat bekerja di rumah sakit universitas.

"Dokter yang tidak dibayar" adalah dokter dan dokter gigi muda yang tidak dibayar karena alasan seperti dalam pelatihan saat menghadiri dan bekerja di rumah sakit universitas.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi telah mensurvei status gaji dan pekerjaan lebih dari 30.000 dokter di 108 rumah sakit medis dan gigi di Jepang.

Baca: Presiden King of The King TNI Aktif, KSAD Ngaku Kecolongan & Tak Tahu Ulah Mister Dony Pedro

Baca: Dampak Wabah Corona, PM Jepang akan Bantu Industri Pariwisata dan UKM dengan Anggaran Khusus

Hasilnya, dikonfirmasi bahwa ada 2.819 dokter yang tidak dibayar di 59 rumah sakit universitas di Jepang.

Pemerintah Jepang mengakui pada Juni tahun lalu bahwa ada 2.191 dokter tidak dibayar untuk pertama kalinya, namun tujuh rumah sakit universitas, termasuk Universitas Tokyo dan Universitas Keio, menjawab bahwa mereka akan "menyelidiki" dan terus menyelidiki.

Hasilnya, menjadi jelas bahwa ada 628 dokter baru yang tidak dibayar di universitas tersebut.

Universitas akan membayar dokter-dokter yang tidak dibayar ini di masa depan.

Baca: Prediksi Cuaca BMKG Hari Ini: Jakarta Diguyur Hujan Deras sejak Pagi hingga Banjir di Beberapa Titik

Baca: 13 Media Tribun Raih Indonesia Print Media Award, 4 Diantaranya Dapat Gold Winner

"Kami telah mendengar bahwa setiap universitas telah melakukan perbaikan, seperti membayar gaji, di masa lalu. Kami akan berbagi hasil survei dengan Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan dan terus mengelola tenaga kerja dokter dengan baik. Kami akan terus mencari dan menelusuri lebih lanjut," kata seorang pejabat di Departemen Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang.

Info lengkap dan diskusi Jepang bisa bergabung ke WAG Pecinta Jepang kirimkan email nama lengkap dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved