AS dan Inggris Tuduh Rusia Luncurkan Senjata Luar Angkasa Baru, hingga Sebut Ada Bukti
Militer Inggris dan AS menuduh Rusia melakukan uji coba senjata anti-satelit awal bulan ini, Kamis (23/7/2020).
Penulis:
Ika Nur Cahyani
Editor:
Garudea Prabawati
Menurutnya Rusia berupaya mengembangkan dan menguji sistem berbasis ruang angkasa.
AS juga menuduh Rusia melakukan uji coba rudal anti-satelit pada April.
Senjata anti-satelit Rusia dan China disebut-sebut sebagai salah satu alasan AS ingin membangun cabang militer yang fokus pada ruang angkasa.
Satelit AS memainkan peran penting dalam segala hal mulai dari navigasi, penargetan senjata, dan pengumpulan intelijen.
Satelit ini juga mampu mengawasi program senjata nuklir Korea Utara dan memantau aktivitas militer Rusia dan China.
Munculnya benda luar angkasa dari Rusia dan China menimbulkan kekhawatiran akan kemampuan Beijing dan Moskow menargetkan satelit.
Beberapa hari sebelum tes senjata berbasis ruang angkasa Rusia yang baru, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa mereka berencana mengadakan pertemuan 'Space Security Exchange' dengan perwakilan Rusia pada akhir bulan ini.
Asisten Menteri Luar Negeri AS, Christopher Ford yang melakukan pertemuan dengan Rusia mengecam uji senjata luar angkasa itu, Kamis (23/7/2020).
Rusia Dituduh Meretas Informasi Vaksin Covid-19
Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada menuduh Rusia meretas data vaksin Covid-19, Kamis (16/7/2020).
National Cybersecurity Centre Inggris menyakini bahwa peretas itu merupakan bagian dari intelijen Rusia.
Badan-badan intelijen di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada mengatakan kelompok peretas itu bernama APT29 atau biasa dikenal Cozy Bear, dikutip dari Associated Press.
Kelompok ini menyerang lembaga penelitian akademik dan farmasi yang terlibat dengan pengembangan vaksin Covid-19.
Baca: Ketegangan AS-China di Laut China Selatan Kian Meningkat, Bagaimana Indonesia Harus Bersikap?
Baca: Terimbas Lonjakan Kasus Covid-19 di AS, American Airlines Siap-siap PHK 25 Ribu Karyawan

Namun ketiga negara itu tidak menyebutkan secara spesifik perusahaan apa yang ditargetkan para peretas tersebut.
Kelompok ini juga diketahui pernah meretas akun email Demokrat selama Pemilu AS 2016.
Belum jelas informasi apa saja yang telah dicuri itu.
"Ini benar-benar tidak dapat diterima bahwa Dinas Intelijen Rusia menargetkan orang-orang yang bekerja untuk memerangi pandemi Covid-19," kata Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab.
(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)