Minggu, 31 Agustus 2025

Eks Putra Mahkota Yordania Disebut akan Kacaukan Kerajaan, Dulu Posisinya Dicopot Raja Abdullah II

Mantan Putra Mahkota Yordania, Pangeran Hamzah bin Hussein (41) dijadikan tahanan rumah setelah dituduh ingin mengacaukan kerajaan.

Penulis: Ika Nur Cahyani
JAMAL NASRALLAH / AFP
Ratu Noor dari Yordania, janda mendiang Raja Hussein, dan putranya Putra Mahkota Hamzah Bin Al Hussein menghadiri pertandingan bola basket antara Yordania dan Lebanon 14 Agustus 1999 di Amman. 

Namun dia dianggap terlalu muda dan tidak berpengalaman menjadi penerus pada saat kematian Raja Hussein.

Kemudian Raja Abdullah mencopot Pangeran Hamzah dari posisi sebagai pewaris takhta pada 2004 dan mengganti posisi itu dengan putranya sendiri.

Apa Duduk Permasalahannya?

Pada Minggu, Wakil Perdana Menteri Ayman Safadi mengatakan kepada pers bahwa Pangeran Hamzah bersekongkol dengan pihak asing dan membahas ketidakstabilan negara.

Safadi menyebut kegiatan Pangeran Hamzah telah dipantau selama beberapa waktu.

Dia menuduh pangeran berupaya memobilisasi 'pemimpin klan' untuk melawan pemerintah.

Baca juga: Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud dari Arab Saudi Ungkap Dukungan untuk Raja Yordania

Baca juga: Menteri Kesehatan Yordania Mundur Setelah 6 Pasien Covid-19 Meninggal karena Kehabisan Oksigen

Raja Abdullah II dari Yordania memberikan sambutan dalam acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering di Jakarta Concention Center, Senayan, Rabu (26/2/2014). Acara tersebut dihadiri 1500 Kyai NU dan sejumlah tokoh nasional. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Raja Abdullah II dari Yordania memberikan sambutan dalam acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering di Jakarta Concention Center, Senayan, Rabu (26/2/2014). Acara tersebut dihadiri 1500 Kyai NU dan sejumlah tokoh nasional. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) (TRIBUN/DANY PERMANA)

Safadi mengatakan pemerintah mencoba mencegah Pangeran Hamzah agar tidak berbuat lebih jauh dan menghindari jalur hukum, namun ditanggapi sinis oleh pangeran.

Sedikitnya 16 orang, termasuk mantan penasihat Raja Abdullah dan anggota kerajaan lain ditangkap atas rencana merusak keamanan negara.

Diketahui penangkapan politik tingkat tinggi jarang terjadi di Yordania.

Namun Badan Intelijen Yordania belakangan menguat sejak pandemi dimulai hingga menuai kritik dari kelompok HAM.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan