Warteg, Kearifan Lokal yang Murah Meriah dan Bikin Kenyang!
Berawal tahun 1950-an menyediakan makanan murah meriah dan bikin kenyang bagi buruh konstruksi, warteg kini jadi bagian sehari-hari…
Perbaikan soal kebersihan, kata pria yang pernah muncul dalam seri Street Food Asia di Netflix ini, adalah langkah paling tepat untuk membuatnya naik kelas. Menilai perlu ada standar kebersihan, Kevin menganggap tidak perlu untuk membuat standar makanan di warteg.
Berawal dari tempat makan buruh konstruksi
Dilema tentang perlu atau tidaknya membuat warteg jadi naik kelas ini sebenarnya juga perkara mempertahankan orisinalitas dan autentikasi warteg seperti awal mula perkembangannya.
Warteg pernah dianggap bukan tempat yang layak buat makan beberapa lapisan masyarakat lantaran dianggap tempat makan kaum kelas bawah. Namun saat ini, warteg tak lagi diidentikkan sebagai warung nasi yang kotor, gelap, dan jorok.
Saat ini banyak pengusaha warteg mulai perlahan berbenah. Sejak kedatangannya ke Jakarta dari Tegal, warung nasi ini sudah menjadi sebuah ikon bahkan sampai menjadi kata ganti penyebutan warung nasi. Hal ini tak lepas dari sejarah awal kedatangan warteg ke Jakarta.
Lamtiur H. Tampubolon, penulis studi berjudul Warung Tegal: Business Unit based on Ethnicity dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menuliskan bahwa konsep warteg berasal dari Tegal, Jawa Tengah.
Awalnya, warteg muncul tahun 1950-an di Yogyakarta dan kemudian merambah ke Jakarta. Saat itu, warteg sangat penting untuk memfasilitasi kebutuhan makan orang-orang yang bekerja sebagai buruh konstruksi di Jakarta.
"Salah satu bentuk dukungannya adalah dari makanan salah satunya dari orang-orang Tegal ini. Semuanya makin masif di tahun 1960-an, saat itu banyak orang Tegal ke Jakarta. Makanya saat itu warteg didominasi oleh kaum pekerja kasar."
Namun saat ini, seiring dengan perkembangan zaman, warteg perlahan-lahan tak lagi dianggap sebagai warung nasi kelas bawah. Sebaliknya justru saat ini warteg justru sudah dianggap sama seperti rumah makan Padang dan menjadi pilihan aneka makanan sehari-hari. Bahkan artis-artis populer ibu kota pun kerap makan di warung nasi Tegal tersebut. Warteg pun sudah tidak lagi hanya identik dengan makanan para pekerja kerah biru.
Warteg jadi Warisan Budaya?
Warteg saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari orang Jakarta dan kota lainnya. Bahkan warteg sudah menjadi bagian dari identitas kota dan bagian budaya Indonesia.
Melihat sejarah dan kekuatan kulinernya, warteg pun dianggap layak untuk dipertimbangkan untuk didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia.
"Warteg ini punya konsep yang unik, serving style-nya semi buffet. Itu ciri khasnya, identitasnya dia. Secara visual punya identitas yang kuat, itu yang bisa bertahan. Makanan rumahan, comfort food buat orang Jakarta, comfort food itu bikin sane in insane city. Makanannya sedap-sedap." kata Kevin.
(ae)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bdeutsche-welle66685372_403.jpg.jpg)