Mengapa dan sejak kapan pria beragama Kristen tidak wajib disunat?
Praktik sunat telah dikaitkan dengan ritual agama selama ribuan tahun. Namun, mengapa banyak pria Kristen tidak bersunat, padahal…
Di sana, Paulus menjelaskan sejumlah besar umat beriman yang telah ia taklukkan di luar Yudea dan caranya berhasil.
Salah satu dari mereka yang awalnya menentang hal ini namun kemudian mendukungnya adalah rasul Yakobus. Dia mengatakan: "Kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah."
Dan Petrus akhirnya berkata: "Jadi sekarang, kenapa kalian menentang Allah dengan menyusahkan saudara-saudari seiman yang bukan Yahudi itu? Baik kita maupun nenek moyang kita tidak pernah mampu melakukan seluruh hukum Taurat. Lalu kenapa membebani mereka dengan semua itu?"
Konflik ini juga berakhir dengan perjanjian di antara para rasul: Paulus tetap berkhotbah di antara orang-orang non-Yahudi dan Petrus serta Yakobus tetap melayani orang-orang Yahudi, jelas Pastorino.
Para rasul, menurut catatan Alkitab, kemudian mengirimkan surat kepada orang-orang non-Yahudi di Antakya, Siria, dan Kilikia.
Dalam surat itu mereka mengatakan telah membuat keputusan untuk tidak membebani umat dengan "beban apa pun selain dari persyaratan berikut: untuk menjauhkan diri dari apa yang dikurbankan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang dicekik, dan dari percabulan".
Ketika surat itu sampai di Antakya, para jemaat membacanya dan merayakan bahwa mereka tidak perlu disunat.
"Paulus adalah pejuang bagi orang-orang non-Yahudi dan menghilangkan hambatan serius dalam penyebaran Injil," kata Long Westfall.
Seiring berlalunya waktu, garis tegas yang selama ini mengeksklusifkan orang Yahudi tidak ada lagi di antara umat Kristen.
Umat Kristen bersunat
Meskipun hukum Musa telah dihapuskan oleh gereja Kristen secara umum, masih ada perpecahan di Afrika yang menjadikan sunat sebagai ritualnya: Kristen Koptik di Mesir, Kristen Ortodoks di Etiopia, dan gereja Nomiya di Kenya adalah beberapa contohnya.
Ada pula lima negara di dunia yang penduduknya mayoritas Kristen, namun sebagian besar jemaat laki-lakinya disunat.
Salah satunya adalah Amerika Serikat. Pada 1870, dokter Lewis Sayre, salah satu pendiri American Medical Association, mulai mempraktikkan sunat untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit tertentu.
Publikasi ilmiahnya, selain promosi sunatnya, membuat praktik ini berlaku bagi hampir semua bayi baru lahir, kata Al Salem.
Dari Amerika Serikat, tindakan sunat menyebar ke Kanada dan Inggris, serta kemudian ke Australia dan Selandia Baru.
Perbedaan ilmiah mengenai risiko dan manfaat sunat menyebabkan praktik ini dihentikan pada bayi baru lahir, kecuali di Amerika Serikat. Di negara itu, sebagian besar laki-laki mengalami sunat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bbc-indonesia_128115956_gettyimages-1155634822.jpg.jpg)