Sabtu, 30 Agustus 2025

Konflik PBNU dan PKB membuat Nahdliyin di daerah 'bingung dan gelisah' - Apa akar masalah dan bagaimana jalan tengahnya?

Perseteruan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) disebut akan terus bergulir, semakin…

BBC Indonesia
Konflik PBNU dan PKB membuat Nahdliyin di daerah 'bingung dan gelisah' - Apa akar masalah dan bagaimana jalan tengahnya? 

Tak terima, Cak Imin mengajukan gugat ke pengadilan dan menang. Pencopotannya sebagai Ketum DPP PKB dibatalkan.

Kubu PKB Gus Dur dan PKB Cak Imin masing-masing menggelar MLB. Cak Imin lalu mendaftarkan kepengurusan partainya ke Kemenkumham dan disahkan. Keputusan Menkumham itu digugat kubu Gus Dur ke PTUN namun ditolak.

Masing-masing kubu pun mendaftarkan partainya ke KPU untuk Pemilu 2009, namun PKB Cak Imin yang dinyatakan sah.

Selain itu, kata Ujang, hubungan PKB Cak Imin dengan PBNU yang dipimpin oleh Said Aqil Siroj dari 2010 sampai 2021 terjalin harmonis.

“Karena satu frekuensi dengan Cak Imin, nah kalau sekarang beda frekuensi, ya tempur terus, saling serang, saling hajar, saling kalahkan,” katanya.

Ujang pun melihat konflik ini akan terus meluas karena "belum ada titik temu, belum ada tanda-tanda islah. Konfliknya akan terus panjang, meluas, dan melebar ke depan. Tidak ada yang mau mengalah. Semuanya adu kekuatan, unjuk gigi untuk saling mengalahkan satu sama lain,“ katanya.

Senada, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam mengatakan, bibit konflik internal ini terjadi sejak “kelompok Gus Dur ‘diambil alih‘ oleh kelompok Cak Imin, di mana kemudian Gus Dur ‘dizalimi‘. Sejak itu muncul dualisme di PKB. Kemudian barisan Cak Imin terus menguat dari waktu ke waktu.“

Surokim menambahkan kubu Cak Imin lalu mendapatkan legitimasi saat pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun menurutnya saat ini PBNU dikuasai kubu Gus Dur dan mereka ingin mengambil kembali kekuasaan PKB dari tangan Cak Imin.

“Dan konflik yang ditunjukan sekarang semakin mengeras, tidak elegan, dan cenderung menyerang individu,“ ujarnya.

Dalam sejarahnya, PKB didirikan pada 1998, sebagai hasil inisiasi dan dukungan dari NU, salah satu tokohnya ada Gus Dur.

Partai ini pun mengantarkan Gus Dur terpilih sebagai presiden pada 1999.

Dua-duanya rugi, bagaimana penyelesaian jalan tengahnya?

Pengamat politik Surokim Abdussalam mengatakan perseteruan PBNU dan PKB akan membuat baik PBNU maupun PKB mengalami kerugian.

“Keduanya akan rugi karena bagaimana pun juga PKB butuh legitimasi dari pengurus struktural NU jika ingin lebih besar lagi. Demikian juga NU yang memandang PKB jadi rumah besar bagi warga NU dalam menyalurkan aspirasi politik,” katanya.

Untuk itu, katanya, perseteruan elit ini perlu dijembatani oleh tokoh-tokoh kiai dari NU maupun PKB yang dapat dipercaya oleh kedua pihak.

“PKB itu anak pertama PBNU. Jadi kalau kemudian sekarang orang tua dan anaknya tidak akur ya perlu ada penjembatan yang bisa menjadi 'kakek' bagi keduanya sehingga keduanya bisa akur kembali. Saya berharap ke kiai-kiai sepuh, seperti Gus Mus yang masih bisa diterima oleh kedua faksi,” ujar Surokim.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Dewan Syuro PKB menjelaskan bahwa PBNU dan PKB tidak memiliki hubungan struktural.

Namun, kedua organisasi ini terikat secara aspiratif, kultural, dan historis, di mana PKB dibentuk untuk menyalurkan aspirasi warga NU dalam dunia politik.

Ia pun meminta kedua organisasi tersebut dapat fokus pada tujuannya masing-masing.

“Saling [berfokus] dengan tugas masing-masing, PBNU tetap pada pembangunan keumatan, PKB pada politik,” kata Amin, Kamis (01/08).

Dengan begitu, sambung Ma'ruf Amin, PBNU dan PKB mampu menjalin hubungan yang baik dan menghindari konflik yang berpotensi menyebabkan perpecahan.

“Sebaiknya memang tidak terjadi konflik, dan seharusnya [mampu] bekerja sama dengan baik. Jadi tidak saling mengintervensi,” imbaunya.

Sumber: BBC Indonesia
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan