Melihat Rasionalisasi Pemindahan ASN ke IKN
Rencana awal pemerintah memindahkan ribuan ASN ke IKN tidak berjalan mulus dan berubah-ubah. Pengamat menyebut pemberian insentif…
Dedy Afandi, seorang ASN di Kementerian Perdagangan secara terang-terangan tertarik untuk didahulukan pindah ke IKN. Dia sempat mengisi formulir dari Sekretariat tentang ketersediaan untuk pindah ke IKN.
Dalam formulir itu, kata Dedy, ada pertanyaan tentang fasilitas apa yang diharapkan oleh ASN jika pindah ke IKN. Hanya saja dalam formulir tersebut tidak disertakan tanggal kepindahannya ke IKN.
Kepada DW dia menceritakan salah satu alasannya untuk didahulukan ke IKN, yakni soal gaya hidup yang selama ini dicarinya. "Karena di sana lebih less-hectic dari Jakarta, lebih slow-living," ujar dia sambil menambahkan "ada kemungkinan insentif yang cukup untuk saya sebagai ASN."
Sebagai seseorang yang memiliki kampung halaman di Pulau Kalimantan, tentunya hal ini juga membuat Dedy juga merasa lebih dekat dengan keluarganya. Hanya saja, kata dia, faktor pendidikan dan kesehatan tetap menjadi kekhawatiran dia dan keluarga.
Terlepas dari kesiapan fasilitas lain yang belum memadai, Dedy berterus terang kalau hal itu tidak terlalu menjadi masalah untuknya.
"Cuma concern kalau semua ke sana, ke pendidikan anak sih, kan yang belum ready itu pendidikan anak," kata Dedy kepada Tim DW Indonesia, sambil menambahkan "selain sekolah, sarana kesehatan juga penting untuk anak-anak dan keluarga.”
Dedy, yang sampai saat ini juga belum tahu kapan akan dipindah ke IKN, berharap kalau dalam waktu dekat dia memang akan ke IKN, fasilitas pendidikan anak tetap menjadi prioritasnya. Dia terang-terangan sangat bersedia pindah ke IKN "kalau pendidikan anak sudah settle."
Di tengah pertanyaan kapan ASN akan pindah ke IKN, Dedy juga berharap dapat dipindah secara bersamaan anak dan istri, supaya tetap berdekatan.
"Saya dan istri mendambakan kalau di IKN itu bisa ke kantor naik sepeda, anak-anak juga bisa naik sepeda ke sekolah. Kehidupan seperti itu mungkin menyenangkan buat dijalani," pungkas Dedy.
Reporter DW Indonesia Iryanda Mardanus berkontribusi dalam liputan ini.
(mh/ae)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.