Kamis, 28 Mei 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Iran Disebut Tinggalkan Houthi demi Hindari Perang dengan AS, Militernya Pergi dari Yaman

Iran meninggalkan Houthi demi menghindari perang dengan AS. Militer Iran mulai angkat kaki dari Yaman utara yang dikuasai Houthi.

Tayang:
X Khamenei/@khamenei_ir
ALI KHAMENEI - Foto ini diambil dari akun X Khamenei pada Kamis (13/3/2025) memperlihatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bertemu dengan sejumlah pimpinan dan fakultas Universitas Shahid Motahari di Teheran pada 3 Juli 2024. Pada Kamis (3/4/2025), Iran dikabarkan meninggalkan Houthi dan menarik tentaranya dari Yaman untuk menghindari perang melawan AS. 

TRIBUNNEWS.COM - Surat kabar Inggris, The Telegraph, dengan mengutip seorang pejabat senior Iran, mengatakan Teheran telah memutuskan untuk menarik pasukan militernya dari Yaman.

Pejabat tersebut mengatakan Iran juga menghentikan dukungannya terhadap kelompok Ansar Allah (Houthi) di Yaman.

Hal ini bertepatan dengan meningkatnya intensitas serangan udara sekutu Israel, Amerika Serikat (AS), terhadap Houthi dan peringatan Presiden AS Donald Trump kepada Iran agar menghentikan dukungannya terhadap Houthi.

Pejabat Iran, yang identitasnya tidak diungkapkan oleh surat kabar tersebut, mengatakan keputusan ini dibuat untuk menghindari konfrontasi langsung dengan AS jika seorang tentara Iran terbunuh di Yaman.

"Teheran sedang mengevaluasi kembali kebijakannya terhadap kelompok proksi di kawasan tersebut, dengan fokus utamanya sekarang pada ancaman langsung dari Amerika Serikat," lapor The Telegraph.

Sumber tersebut menegaskan topik utama dalam pertemuan pejabat Iran saat ini adalah Donald Trump dan bagaimana menangani kebijakannya.

"Dalam semua pertemuan, pembicaraan berkisar pada Trump, dan tidak ada lagi pembahasan tentang kelompok regional yang sebelumnya kami dukung," kata pejabat itu kepada The Telegraph.

Houthi telah menjadi sasaran serangan hampir setiap hari dari AS sejak serangan terbaru mulai 15 Maret 2025.

Donald Trump menggambarkan serangan itu sangat sukses, dan mengatakan serangan itu menghancurkan target militer penting dan membunuh beberapa pemimpin militer Houthi.

"Pandangan di sini adalah bahwa Houthi tidak akan mampu bertahan, dan mereka sudah menjalani bulan-bulan terakhir atau bahkan hari-hari terakhir mereka, jadi tidak ada gunanya untuk tetap memasukkan mereka dalam daftar dukungan kami," kata pejabat itu.

"Mereka adalah bagian dari rantai yang bergantung pada (mantan Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan) Nasrallah dan (Presiden Suriah yang digulingkan Bashar) Assad, dan mempertahankan hanya satu bagian dari rantai itu untuk masa depan tidak masuk akal," tambahnya.

Baca juga: AS Tembak Jatuh Rudal Houthi Yaman saat Terbang di Arab Saudi Menuju Israel

Houthi telah mengumumkan bahwa mereka telah menargetkan kapal perang AS di Laut Merah, termasuk kapal induk USS Harry S. Truman, yang memimpin operasi militer melawan Houthi.

Sejauh ini belum ada kapal yang terkena serangan, tetapi Angkatan Laut AS mengatakan tembakan Houthi merupakan tembakan paling hebat yang pernah dihadapi pelautnya sejak Perang Dunia II.

Kapal induk USS Carl Vinson, yang saat ini berada di Asia, sedang menuju Timur Tengah untuk mendukung kapal USS Harry S. Truman, seperti diberitakan Russia Today.

Sebelumnya, pada pertengahan Oktober 2023, Houthi menyatakan solidaritas untuk warga Palestina di Jalur Gaza.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved