Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
PBB di Ambang Kolaps, 6.900 Karyawan Terancam Dipecat Imbas Krisis Anggaran
PBB bersiap melakukan efisiensi, memangkas 6.900 pekerja di seluruh dunia mulai 1 Januari 2026, imbas krisis keuangan akibat lonjakan tunggakan
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Tiara Shelavie
AS sendiri diketahui memiliki tunggakan dan belum melunasi iuran tahun fiskal dengan jumlah hampir 1,5 miliar dolar AS.
Kegagalan AS membayar iurannya juga menciptakan krisis likuiditas bagi PBB, yang diperparah oleh keterlambatan pembayaran dari China.
Mengingat kedua negara ini menjadi penyumbang anggaran terbesar dimana total sumbangan keduanya mencapai lebih dari 40 persen total pendanaan PBB.
PBB Rombak Departemen
Selain melakukan PHK massal, Dalam beberapa pengarahan publik kepada diplomat PBB bulan ini, Guterres menyampaikan bahwa ia sedang mempertimbangkan perombakan besar-besaran.
Perombakan tersebut dengan menggabungkan sejumlah departemen dan mengalihkan sumber daya ke berbagai wilayah di dunia.
Ia menyebut bahwa PBB mungkin akan menggabungkan beberapa lembaga, memangkas lembaga lain, memindahkan staf ke kota-kota dengan biaya yang lebih rendah, menghilangkan duplikasi, serta memotong birokrasi yang tidak perlu.
WFP misalnya, diperkirakan akan memangkas hingga 30 persen stafnya. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) juga berencana mengecilkan kantor pusat dan kantor regionalnya, memangkas biaya hingga 30 persen dan mengurangi 50 persen posisi tingkat senior.
Badan lain seperti UNICEF (badan anak-anak PBB) dan OCHA (badan kemanusiaan PBB) juga sudah mengumumkan atau berencana melakukan pemangkasan staf.
Dengan mengurangi duplikasi tugas dan meningkatkan efisiensi operasional, PBB berharap dapat terus menjalankan misinya meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya.
Namun, rencana ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pegawai dan negara-negara anggota.
Banyak yang mempertanyakan dampak jangka panjang dari pemangkasan ini terhadap kemampuan PBB dalam menjalankan program-program kemanusiaan dan pembangunan di berbagai belahan dunia.
Sementara itu, PBB berharap bahwa restrukturisasi ini akan memperkuat organisasi dan meningkatkan efektivitasnya dalam menghadapi tantangan global.
Dengan dukungan dan kerja sama dari semua pihak, PBB berupaya untuk tetap menjadi lembaga yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.