Senin, 1 September 2025

Konflik Iran Vs Israel

Perang Iran-Israel Hari Ke-7, Akankah AS Bergabung? Aksi Protes Meletus di Washington dan New York

Donald Trump menolak memberikan jawaban pasti apakah AS akan bergabung dalam perang melawan Iran.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Febri Prasetyo
Tangkap layar YouTube Sky News
LANGKAH AS - Tangkap layar YouTube Sky News pada 19 Juni 2025, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump saat diwawancarai wartawan di luar Gedung Putih pada Rabu (18/6/2025). Donald Trump menolak memberikan jawaban pasti apakah AS akan bergabung dalam perang melawan Iran. 

TRIBUNNEWS.COM – Presiden Donald Trump membuat dunia bertanya-tanya apakah Amerika Serikat akan turut serta dalam perang Iran-Israel yang kini telah memasuki hari ketujuh, Kamis (19/6/2025).

Mengutip Reuters, saat berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Rabu (18/6/2025), Trump menolak memberikan jawaban pasti apakah ia telah membuat keputusan untuk bergabung dengan Israel dalam melawan Iran.

"Saya mungkin melakukannya. Saya mungkin tidak melakukannya. Maksud saya, tidak seorang pun tahu apa yang akan saya lakukan," ujarnya.

Trump kemudian menyatakan bahwa pejabat Iran ingin datang ke Washington untuk mengadakan pertemuan.

Namun, ia menambahkan bahwa hal itu "sudah agak terlambat" untuk pembicaraan semacam itu.

Sejauh ini AS belum terlibat langsung dalam serangan terhadap Iran.

Mengutip ABC News, seorang sumber yang mengetahui diskusi internal menyebutkan bahwa Trump dan timnya sedang mempertimbangkan opsi untuk bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran.

TRUMP DI KANADA - Foto diambil dari Facebook The White House pada Selasa (17/6/2025), memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan dengan anggota G7 di Kanada pada hari Senin (16/6/2025).
TRUMP DI KANADA - Foto diambil dari Facebook The White House pada Selasa (17/6/2025), memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan dengan anggota G7 di Kanada pada hari Senin (16/6/2025). (Facebook The White House)

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan kepada komite Senat pada hari Rabu bahwa Pentagon siap melaksanakan perintah apa pun yang diberikan oleh presiden.

Dalam konferensi pers berikutnya, Trump kembali menegaskan bahwa ia belum membuat keputusan apakah akan menyerang Iran, tetapi menyebut bahwa perubahan dalam pemerintahan Iran "bisa saja terjadi".

Meski begitu, Trump tetap membuka kemungkinan kesepakatan dengan republik Islam tersebut, dengan menyatakan bahwa banyak pendukung domestiknya tidak ingin melihat Iran memiliki senjata nuklir.

Sementara itu, Rusia memperingatkan agar AS tidak ikut campur.

Baca juga: Iran-Israel Saling Balas Serangan Udara, Menlu Klaim Evakuasi WNI Hanya Bisa Gunakan Jalur Darat

“Intervensi AS dalam konflik Iran-Israel akan memicu lingkaran eskalasi yang mengerikan,” ujar Kremlin pada Kamis (19/6/2025), sebagaimana dilaporkan Interfax.

Di sisi lain, aksi protes meletus di Washington dan New York pada Kamis (19/6/2025).

Para demonstran berkumpul di depan Gedung Putih dan di sejumlah titik di New York untuk menentang serangan Israel terhadap Iran, serta mendesak agar AS tidak terlibat dalam konflik tersebut, menurut laporan Al Jazeera.

“Para demonstran ini menentang pengeboman Israel terhadap Iran dan menolak keterlibatan AS, termasuk dalam bentuk pendanaan miliaran dolar untuk bantuan militer bagi Israel,” kata John Hendren dari Al Jazeera.

Mereka membawa berbagai plakat bertuliskan "Jangan Ganggu Iran Sekarang" dan "Hentikan Pendanaan Genosida".

Aksi ini berlangsung di tengah laporan Bloomberg News yang menyebut bahwa pejabat senior AS “bersiap menghadapi kemungkinan serangan terhadap Iran dalam beberapa hari mendatang”.

Laporan tersebut, yang mengutip sejumlah sumber, menyatakan bahwa situasi masih berkembang dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Beberapa sumber, menurut Bloomberg, mengisyaratkan adanya rencana serangan yang mungkin terjadi akhir pekan ini.

Kata Pakar

Ryan Crocker, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Afghanistan, Irak, Pakistan, Suriah, Kuwait, dan Lebanon, menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan keterlibatan AS dalam perang dan serangan terhadap Iran.

Mengutip Politico, jika AS melakukan serangan langsung, Iran akan memiliki dua pilihan.

Pertama, kembali ke meja perundingan dengan kesiapan untuk mempertahankan kemampuan pengayaan uranium, atau memilih untuk membalas serangan tersebut.

Tindakan balasan bisa mencakup pemblokiran Selat Hormuz, serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk Arab, atau serangan terhadap target militer dan diplomatik AS di wilayah tersebut, baik secara langsung maupun melalui milisi-milisi yang berafiliasi dengan Iran.

Kemampuan Iran untuk menimbulkan kerugian besar terhadap Israel memang terus menurun. Namun, mereka tetap memiliki kapasitas untuk melakukan operasi seperti itu, ujar Crocker.

Pembalasan Iran kemungkinan besar akan memicu respons besar-besaran dari AS.

Baca juga: Mehdi Taremi Terjebak di Iran, Inter Milan Krisis di Piala Dunia Antarklub 2025

Namun, kekuatan udara saja tidak akan mampu sepenuhnya menghentikan kemampuan Iran dalam memproduksi senjata nuklir.

Iran telah memiliki pengetahuan teknis, dan baik Israel maupun AS tidak akan mampu membunuh seluruh ilmuwan nuklir mereka.

Satu-satunya cara untuk menghentikan program senjata nuklir Iran adalah melalui kesepakatan yang dapat diverifikasi untuk menghentikan pengayaan nuklir.

Mungkin kekuatan militer AS dapat membujuk Iran untuk menerima pembatasan tersebut.

Namun jika tidak, langkah militer justru berisiko memperluas konflik dan memperkuat tekad Iran untuk mendapatkan senjata nuklir, apa pun risikonya.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan