Minggu, 31 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

Iran Skeptis, Sulit Percaya AS Lagi setelah Israel Mulai Perang, sebut Negosiasi Nuklir Cuma 'Kedok'

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Iran skeptis, sulit percaya lagi dengan AS setelah sekutu AS, Israel, mulai menyerang Iran.

X Khamenei/@khamenei_ir
ALI KHAMENEI - Foto ini diambil dari akun X Khamenei pada Kamis (13/3/2025) memperlihatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bertemu dengan sejumlah pimpinan dan fakultas Universitas Shahid Motahari di Teheran pada 3 Juli 2024. Pada 20 Juni 2025, Iran menyatakan skeptis dan sulit percaya pada AS untuk melakukan perundingan nuklir lagi setelah sekutu AS, Israel, memulai serangannya terhadap Iran. 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Iran sulit untuk mempercayai Amerika Serikat (AS) lagi setelah sekutu AS, Israel, meluncurkan serangan terhadap Iran.

"Iran tidak yakin untuk mempercayai Amerika Serikat dalam perundingan damai," katanya dalam wawancara dengan NBC News setelah pertemuan dengan diplomat Eropa di Jenewa, Swiss, pada hari Jumat (20/6/2025).

Pernyataannya mengisyaratkan negosiasi program nuklir yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump merupakan "kedok" untuk serangan Israel terhadap negaranya.

Abbas Araghchi mengatakan AS melakukan pengkhianatan terhadap diplomasi tersebut, seraya menambahkan bahwa AS harus menunjukkan niatnya untuk melanjutkan diplomasi dengan Iran.

“Kami telah sampai pada kesimpulan bahwa negosiasi yang dilakukan AS sebenarnya adalah kedok atas apa yang dilakukan Israel,” katanya.

"Pejabat AS harus menunjukkan tekad mereka untuk merundingkan solusi," tambahnya.

“Kami tidak tahu bagaimana kami bisa mempercayai mereka (AS) lagi,” jelasnya, seperti diberitakan CNN.

Ia juga menanggapi pertanyaan mengenai pernyataan Trump akhir-akhir ini yang memberikan tenggat waktu dua minggu bagi Iran untuk melakukan pembicaraan dengan AS.

"Terserah kepada pemerintahan Trump untuk menunjukkan tekad mereka dalam mencari solusi yang dinegosiasikan," katanya.

Ia mengatakan AS sebenarnya tidak berniat untuk melakukan negosiasi dengan Iran.

Sebelumnya pada hari Jumat, Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump memberikan waktu selama dua minggu bagi Iran.

Baca juga: 2 Minggu Lagi, Trump Akan Buat Keputusan Apakah AS Ikut Perang Israel-Iran atau Negosiasi

"Berdasarkan fakta bahwa ada kemungkinan besar negosiasi yang mungkin terjadi atau tidak dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan melakukannya dalam dua minggu ke depan atau tidak," katanya dalam konferensi pers pada hari Jumat.

Setelah bertemu dengan para pejabat Eropa, Abbas Araghchi tiba di Turki pada Jumat malam, menjelang pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam yang beranggotakan 57 negara pada hari Sabtu (21/6/2025), yang mewakili suara kolektif dunia Muslim.

Berbicara kepada media Iran di Istanbul, Abbas Araghchi mengatakan dia akan memanfaatkan kesempatan ini sepenuhnya untuk menyampaikan suara rakyat Iran.

Menteri tersebut mengatakan, ia juga berencana bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan pejabat lainnya.

Sebelumnya, Donald Trump yang kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, mengirim surat diplomatik kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada bulan Maret.

Surat tersebut berisi tawaran untuk pembicaraan langsung mengenai negosiasi pembatasan program nuklir.

Trump memberikan waktu dua bulan untuk Iran agar menyetujui persyaratan dari AS.

Putaran pertama negosiasi berlangsung pada 12 April 2025 di Muscat, Oman, dan dilanjutkan pada 19 April 2025 di Roma, Italia, serta pertemuan ketiga pada 26 April 2025 di Muscat, Oman.

Namun, di tengah proses diskusi tersebut, sekutu AS, Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 13 Juni 2025, membuat Iran membekukan negosiasi apa pun.

Segera setelah serangan itu, Iran meluncurkan serangan balasan kurang dari 24 jam.

Sementara itu, Trump bergegas memberikan pernyataan bahwa AS tidak terlibat dalam serangan Israel terhadap Iran.

Jumlah korban jiwa dalam serangan Israel terhadap Iran meningkat menjadi 639 dan melukai lebih dari 1.329 lainnya, menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia, dikutip dari Anadolu Agency.

Israel melaporkan 25 orang tewas dan lebih dari 800 orang terluka dalam serangan balasan Iran, data terakhir yang dipublikasikan otoritas Israel, menurut laporan AFP.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan