Konflik Iran Vs Israel
Gulirkan Isu Gulingkan Rezim Iran, Donald Trump Masih Tertarik Tempuh Jalan Damai
Gedung Putih berpendapat bahwa Iran memang harus menggulingkan pemerintahan mereka jika menolak berunding mengenai program nuklir teheran.
Penulis:
Reza Deni
Editor:
Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Amerika Serikat melakukan serangan udara mendadak terhadap tiga situs nuklir Iran di saat konflik Teheran dengan Israel memanas.
Bahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan secara eksplisit soal isu penggulingan rezim Ayatollah Sayed Ali Khemenei.
Terbaru, Trump, melalui Sekretaris Gedung Putih Karoline Leavitt, berpendapat bahwa Iran memang harus menggulingkan pemerintahan mereka jika menolak berunding mengenai program nuklir Teheran.
Namun, AS masih tertarik dengan jalan damai dari Iran.
"Jika rezim Iran menolak untuk mencapai solusi diplomatik yang damai, yang masih diminati dan ditekuni oleh Presiden (Donald Trump), mengapa rakyat Iran tidak boleh mengambil alih kekuasaan rezim yang sangat kejam ini, yang telah menindas mereka selama beberapa dekade?" kata Leavitt dilansir Aljazeera, Senin (23/6/2025).
Baca juga: Iran Ancam Presiden AS Donald Trump: Kau Memulai, Kami yang Akan Mengakhiri
Sebelumya, dalam akun media sosialnya, Trump menyinggung soal nasib rezim Khamenei di Iran setelah negaranya diserang AS.
"Tidak tepat secara politik untuk menggunakan istilah 'Perubahan Rezim', tapi jika rezim Iran sekarang tidak mampu untuk MAKE IRAN GREAT AGAIN (membuat Iran hebat lagi), kenapa tidak akan ada perubahan rezim di sana? MIGA!" tulis Trump dalam akun medsos Truth.
Menyikapi serangan AS, Iran melemparkan ancaman kepada Amerika Serikat.
Baca juga: Trump Sebut Serangan ke Iran untuk Gulingkan Rezim Garis Keras, Bukan Perang Dunia Ketiga
Juru Bicara Komandan Pusat Angkatan Bersenjata Iran, Ibrahim Zolfaqari, mengatakan Teheran akan merespons serangan tersebut.
Ibrahim menyebut akan ada operasi kuat dan terarah yang akan menimbulkan konsekuensi berat, disesalkan, dan tidak terduga.
Awalnya, Ibrahim merespons soal klaim Presiden AS Donald Trump yang berhasil menyerang mereka.
"Itu tidak hanya sia-sia, tetapi juga akan memperluas cakupan target yang sah dan beragam (bagi militer Iran) dan meletakkan dasar bagi perluasan perang di seluruh kawasan," kata Ibrahim dalam pernyataan via video yang ditayangkan Fars dan Mehr pada Senin (23/6/2025).
Ibrahim pun mengultimatum Trump lewat kalimat dalam bahasa Inggris.
"Tuan Trump, kau mungkin memulai perang ini, tetapi kami akan menjadi orang yang mengakhirinya," ujarnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.