Minggu, 31 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

Korea Utara Murka setelah AS Serang Iran: Eskalasi Berbahaya Gara-gara Impunitas Israel

Korea Utara murka usai sekutu Israel, AS, menyerang Iran. Korut sebut ini eskalasi yang berbahaya, salah satunya karena impunitas Israel di kawasan.

Editor: Nuryanti
Foto oleh Kristina Kormilitsyna/Rossiya Segodnya/Kremlin
PUTIN KUNJUNGI DPRK - Foto diambil dari publikasi Kantor Presiden Rusia pada Senin (23/6/2025), memperlihatkan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (tidak terlihat di foto) di Pyongyang pada 18 Juni 2024. Pada 22 Juni 2025, Korea Utara mengutuk serangan AS terhadap Iran. 

TRIBUNNEWS.COM - Korea Utara mengutuk serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengeboman tiga fasilitas nuklir Iran yang ada di Isfahan, Natanz, dan Fordow.

"Pemerintah Korea Utara juga menyerukan kecaman lebih keras terhadap tindakan militer dan kebijakan konfrontatif yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat," menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada hari Minggu (22/6/2025).

Pemerintahan Kim Jon Un menekankan bahwa serangan AS terhadap Iran adalah tindakan yang berbahaya.

Korea Utara menegaskan AS telah melanggar kedaulatan Iran, Piagam PBB, dan prinsip hukum internasional lainnya yang didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Korea Utara mencatat situasi di Timur Tengah semakin buruk setelah Israel memperluas serangannya di kawasan tersebut.

"Situasi terkini di Timur Tengah, yang mengancam fondasi perdamaian dan keamanan internasional, merupakan hasil tak terelakkan dari keberanian Israel, yang memperluas kepentingan sepihaknya melalui perang dan perampasan tanah yang berkelanjutan, serta 'tatanan liberal' Barat yang telah mendorong dan memaafkan tindakan ini," tulis kementerian tersebut.

Menurut Korea Utara, tindakan AS dan Israel, dengan dalih apa yang disebut "menjaga perdamaian" dan "menghilangkan ancaman" telah memperburuk ketegangan di Timur Tengah dan menyebabkan merusak keamanan global.

"Tindakan mereka sangat memprihatinkan, dan masyarakat internasional, yang menjunjung tinggi keadilan, harus dengan suara bulat mengutuk dan menolak kebijakan konfrontatif yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel," kata kementerian tersebut.

AS sebelumnya melakukan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran di Isfahan, Natanz, dan Fordow pada hari Minggu.

Axios melaporkan bahwa AS mengerahkan tujuh pesawat pengebom siluman B-2 dan puluhan pesawat pengisi bahan bakar yang melakukan penerbangan non-stop dari Missouri ke Iran.

Laporan Axios menyebutkan AS menggunakan 14 bom penembus bunker GBU-57 MOP terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.

Baca juga: Trump: Fasilitas Nuklir Iran Rusak Parah di Dalamnya, Bukan Hanya di Luar

Serangan tersebut menandai masuknya AS ke dalam perang untuk membantu sekutunya, Israel, yang tidak memiliki sarana untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Beberapa hari sebelum serangan tersebut, Israel dikabarkan meyakinkan AS untuk memasuki perang karena AS satu-satunya yang memiliki bom penembus bunker GBU-57 MOP seberat 30.000 pon dan pesawat yang dapat meluncurkan bom tersebut untuk menembus fasilitas Fordow yang ada di dalam gunung.

Israel memulai serangan terhadap Iran pada 13 Juni 2025 dengan meluncurkan rudal ke Teheran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim serangan tersebut bertujuan untuk melenyapkan program nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman bagi Israel.

Iran melakukan serangan balasan kurang dari 24 jam dengan menargetkan target di Tel Aviv, Haifa, hingga Yerusalem yang diduduki.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan