Senin, 1 September 2025

Deepfake Jadi Ancaman Serius Seluruh Masyarakat

meskipun teknologi deepfake kian canggih, di Jepang sudah ada sejumlah lembaga dan perusahaan berbasis AI yang berupaya mendeteksi keaslian konten vis

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Ricard Susilo
DEEPFAKE - Dai Yamamoto, Senior Project Director, Data & Security Research Laboratory, Fujitsu Limited (kanan) dan Kotaro Nakayama, Representative, NABLAS Inc. (kiri). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Saat ini, siapa pun dapat menghasilkan media berkualitas tinggi dengan mudah, namun sangat sulit untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.

"Deepfake merupakan ancaman serius bagi seluruh anggota masyarakat saat ini," ujar Kotaro Nakayama, Representative Nablas Inc., kepada Tribunnews.com, Selasa (24/6/2025).

Deepfake adalah teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan manipulasi konten visual dan audio untuk membuatnya terlihat dan terdengar seolah-olah asli, padahal sebenarnya palsu.

Istilah “deepfake” berasal dari gabungan kata “deep learning” dan “fake”.

Meskipun begitu, kata dia, di Jepang sudah ada kelompok AI yang mampu mendeteksi keaslian suatu gambar maupun video, seperti AI Research Institute, sebuah perusahaan rintisan (start-up) dari Universitas Tokyo.

Nakayama menekankan bahwa saat ini ada tiga aspek utama yang perlu menjadi perhatian, yakni sistem dan hukum, pendidikan, serta teknologi berikut teknologi penangkalnya.

Deteksi deepfake, memiliki kemampuan dan keterbatasan yang bisa didekati dengan model hibrida, pendekatan multimoda, serta dukungan untuk model yang belum diketahui.

Baca juga: Video Deepfake Bupati Sampang Picu Kegaduhan, Pemkab Ancam Tempuh Jalur Hukum

“Tindakan yang harus dilakukan masyarakat di bidang hukum mencakup pembuatan, revisi, dan optimalisasi hukum serta sistem sosial, sekaligus menjaga perlindungan hak asasi manusia,” jelasnya.

Di bidang pendidikan, Nakayama menekankan pentingnya pemahaman terhadap kemampuan dan keterbatasan teknologi AI.

"Yang harus ditakuti adalah hal yang memang pantas ditakuti.

Sebaliknya, manfaatkan secara efektif apa yang memang seharusnya digunakan. Pendidikan moral sebaiknya menjadi pelengkap dari pendidikan literasi," ujarnya.

Sementara di bidang teknologi, ia menyoroti pentingnya kemampuan mendeteksi keaslian gambar, teks, audio, dan video.

“Keaslian konten serta manajemen konten perlu terus dikaji dan diteliti lebih dalam,” tambahnya.

Nakayama juga mengingatkan bahwa kejahatan berbasis AI terhadap perusahaan sudah menjadi ancaman nyata saat ini dan akan terus berkembang di masa depan.

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan