Konflik Iran Vs Israel
Trump Ultimatum Iran: Serangan Militer Siap Diluncurkan jika Program Nuklir Jalan Terus
Trump melayangkan ultimatum keras kepada Iran, ancam akan kembali serang Teheran jika negara itu mencoba menghidupkan program pengayaan uranium
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nuryanti
TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump melayangkan ultimatum keras kepada Iran, ancam akan kembali serang Teheran jika negara itu mencoba menghidupkan program pengayaan uranium.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri konferensi pers seusai KTT NATO di Belanda, Rabu (25/6/2025).
"Kami telah menghantam fasilitas nuklir Iran sebelumnya. Jika mereka coba lagi, kami akan lakukan hal yang sama bahkan lebih dari itu," ujar Trump, dilansir Reuters.
Ancaman ini menjadi sinyal jelas bahwa Washington tidak akan memberi ruang bagi Iran mengaktifkan kembali ambisi nuklirnya, setelah sebelumnya AS sempat melayangkan serangan ke 3 fasilitas nuklir Iran.
"Hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah memperkaya apa pun saat ini,” tegas Trump
"Mereka tidak akan memiliki bom dan mereka tidak akan memperkaya. Saya pikir kita akan berakhir dengan hubungan yang agak mirip dengan Iran," tambahnya.
Meski perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran sudah mereda, dan kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata, akan tetapi Presiden Trump mengaku masih sangat mencurigai aktivitas nuklir Iran.
Ia menilai bahwa gencatan senjata hanyalah penghentian tembak-menembak, namun tidak otomatis menghentikan ambisi nuklir Iran di balik layar.
Bahkan setelah serangan AS sebelumnya menghantam tiga situs penting yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan intelijen AS menyebutkan cadangan uranium Iran belum dimusnahkan sepenuhnya.
AS-Iran Bakal Gelar Pembicaraan
Baca juga: Iran Jamin Konflik yang Terjadi antara Negaranya dengan Israel Tak Akan Merembet ke ASEAN
Terpisah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pejabat tinggi dari Amerika dan Iran akan menggelar pertemuan diplomatik pekan depan.
Pembicaraan ini rencananya bakal digelar untuk membahas masa depan program nuklir Iran.
Trump menegaskan bahwa pertemuan yang direncanakan bukan berarti akan menghasilkan perjanjian formal.
Ia menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk memastikan Iran menghentikan langkah-langkah yang mengarah pada pengembangan senjata nuklir, bukan sekadar menandatangani dokumen.
Ini menjadi perkembangan mengejutkan setelah konflik militer yang sempat memanas selama dua pekan terakhir.
"Minggu depan kita akan bertemu. Mungkin akan ada kesepakatan, mungkin tidak. Tapi saya tidak terlalu peduli soal itu yang penting, mereka tahu batasnya," ujar Trump.
"Kami tidak menginginkan nuklir, tetapi kami telah menghancurkan nuklir. Dengan kata lain, nuklir telah hancur. Saya katakan, 'Iran tidak akan memiliki nuklir.' Nah, kami telah menghancurkannya. Nuklir telah hancur berkeping-keping, jadi saya tidak begitu yakin akan hal itu. Jika kami mendapatkan dokumennya, itu tidak akan buruk. Kami akan bertemu dengan mereka," imbuh Trump.
Pengumuman Trump ini langsung mendapat perhatian dunia internasional, banyak pihak melihatnya sebagai peluang baru untuk mencegah eskalasi perang besar di Timur Tengah.
Meski demikian, banyak pengamat menyatakan bahwa gaya diplomasi Trump masih cenderung intimidatif.
Dalam pengumumannya, Trump menyebut bahwa ia “mungkin akan menandatangani kesepakatan, atau mungkin tidak,” dan menegaskan bahwa Iran akan diserang lagi jika melanjutkan program nuklirnya.
Pendekatan seperti ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pertemuan tersebut bukan benar-benar bertujuan mencapai kompromi, melainkan sekadar alat tekanan agar Iran tunduk tanpa syarat.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.