Rabu, 13 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Trump Terapkan Tarif Timbal Balik

Trump, Indonesia, dan Diplomasi Prabowo

Indonesia menjadi pengecualian penting dengan tarif hanya 19%, yang sekaligus menjadi tarif terendah di antara negara-negara Asia.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dewi Agustina
Dok Pribadi
Ali Rifan, Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia 

Oleh: Ali Rif'an
Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akhirnya mengumumkan bahwa AS telah mencapai kesepakatan dagang dengan Indonesia

Yang menarik, Indonesia justru menjadi pengecualian penting dengan tarif hanya 19 persen, yang sekaligus menjadi tarif terendah di antara negara-negara Asia dengan surplus dagang ke AS.

Sebelumnya, dunia menyaksikan bagaimana kebijakan nasionalisme ekonomi Amerika Serikat, melalui “Trump tariff” terbaru yang akan berlaku mulai 1 Agustus 2025, memaksa negara-negara Asia memutar otak. 

Tarif tinggi kini membayangi berbagai negara: Vietnam dikenakan tarif 20 persen (bahkan hingga 40 persen untuk dugaan transshipment), Malaysia 25 persen, Korea Selatan 25 persen, Jepang 25%, Thailand 36%, hingga Laos 40%. 

Namun, di tengah gelombang kenaikan tarif yang diwarnai ketegangan multipolar dan proteksionisme ekonomi, Presiden Prabowo hadir dengan strategi diplomasi yang jenuin. 

Tentu pengecualian penting bagi Indonesia dengan tarif hanya 19% ini tidak hanya menandai capain diplomasi yang gemilang, namun menandakan bahwa posisi Indonesia di panggung global makin diperhitungkan.

Saya melihatnya ini bukanlah capaian yang kebetulan. 

Di balik angka 19% tersebut, terdapat kerja diplomasi intensif yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, yang berhasil memposisikan Indonesia sebagai mitra strategis dan dipercaya di mata Washington. 

Ini tentu capaian yang strategis. Bayangkan, dengan tarif yang lebih rendah ini, produk-produk Indonesia memiliki keunggulan kompetitif signifikan, membuka peluang ekspor yang lebih besar, dan memacu penciptaan lapangan kerja di dalam negeri. 

Langkah ini membuktikan bahwa diplomasi bukan sekadar urusan meja perundingan, melainkan juga bisa menjadi instrument penting untuk menjaga ekonomi nasional dan memperkuat kesejahteraan rakyat.

Diplomasi Prabowo

Dalam catatan saya, dalam sembilan bulan memimpin Indonesia, Presiden Prabowo telah berhasil melakukan berbagai diplomasi penting di panggung global. 

Sebagai contoh, pada lawatan ke Arab Saudi, misalnya, Presiden Prabowo bukan hanya mempertahankan kuota Haji Indonesia, tetapi juga berhasil memperoleh lahan strategis 400 meter dari Masjidil Haram untuk membangun Kampung Indonesia

Kawasan ini akan menjadi pusat pelayanan Haji dan Umrah, sekaligus membuka ribuan lapangan kerja bagi diaspora Indonesia

Komitmen investasi Rp 437 triliun dari perusahaan Saudi ke sektor energi bersih, petrokimia, dan bahan bakar penerbangan menegaskan Indonesia sebagai destinasi utama investasi Timur Tengah.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved