Tribunners / Citizen Journalism
Trump Terapkan Tarif Timbal Balik
Trump, Indonesia, dan Diplomasi Prabowo
Indonesia menjadi pengecualian penting dengan tarif hanya 19%, yang sekaligus menjadi tarif terendah di antara negara-negara Asia.
Selain itu, di Brazil, Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong reformasi tatanan global melalui deklarasi BRICS.
Indonesia kini menjadi suara penting yang mendesak agar lembaga-lembaga internasional seperti PBB, WTO, dan WHO menjadi lebih adil, transparan, dan relevan bagi negara-negara berkembang.
Diplomasi ini tidak hanya bersifat simbolik, melainkan juga membuka jalur kerjasama perdagangan dan investasi yang lebih intens dengan Brazil--membuka pasar bagi komoditas Indonesia dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Lebih dari itu, kesepakatan dengan Uni Eropa menandai gong penting diplomasi Presiden Prabowo.
Setelah tertunda lebih dari sepuluh tahun, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) akhirnya dirampungkan.
Perjanjian ini bukan hanya soal tarif dan kuota, tetapi juga melibatkan pengakuan standar produk Indonesia, perlindungan UMKM, serta peningkatan teknologi industri.
Ditambah kebijakan visa cascade yang memudahkan warga Indonesia mengakses visa multiple entry ke wilayah Schengen, sehingga hasil diplomasi ini langsung bisa dirasakan pelajar, peneliti, pebisnis, hingga wisatawan.
Selain itu, partisipasi kontingen Indonesia di defile Bastille Day Perancis juga makin menegaskan posisi Indonesia di panggung global.
Keberhasilan tampil sebagai pembuka defile bukan sekadar kehormatan budaya, tetapi juga isyarat pengakuan dunia bahwa Indonesia adalah negara yang besar dan dipercaya.
Artinya, peran presiden sebagai chief diplomat telah mampu membaca dinamika global, mengelola tekanan kekuatan besar, dan tetap menjaga jati diri bangsa.
Manifestasi Trisakti
Apa yang dilakukan Presiden Prabowo di panggung global saat ini dengan berbagai strategi diplomasinya, mengingatkan saya pada Trisakti Bung Karno, "berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan".
Sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, Presiden Prabowo telah melakukan pekerjaan sesuai dengan falsafah para founding fathers dengan menjunjung tinggi soal kedaulatan, kemandirian, dan kepribadian.
Hal ini tentu sejalan sengan Teori Realisme Progresif yang dikemukakan oleh Joseph Nye.
Teori ini menggabungkan pendekatan realistis (kekuatan nasional dan kepentingan negara) dengan nilai-nilai global seperti kerja sama multilateral dan diplomasi cerdas.
Dalam konteks Trisakti, Prabowo menunjukkan langkah-langkah realistis untuk memperkuat kedaulatan politik dan ekonomi, sekaligus tetap membangun relasi internasional berbasis resiprositas dan penghormatan budaya nasional.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Arif-Rifan-Dosen-UIN-Dir-Arus-Survei.jpg)