Selasa, 2 Juni 2026

Konflik Palestina Vs Israel

Netanyahu Dukung 'Israel Raya', Caplok Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, Mesir

Perdana Menteri Israel Netanyahu mendukung visi 'Israel Raya' dengan mencaplok Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, Mesir, Irak sebagai tanah Yahudi.

Tayang: | Diperbarui:
Facebook PM Israel
NETANYAHU PRESENTASI - Foto diambil dari Facebook PM Israel pada Rabu (13/8/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Konferensi Pers untuk media asing pada 5 September 2024. Pada 12 Agustus 2025, Netanyahu menyatakan ia sedang menjalankan misi untuk mewujudkan "Israel Raya" sebagai tanah yang dijanjikan, meliputi wilayah seluruh Palestina dan sebagian Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, dan Mesir. 

Mereka menilai tindakan ini akan menghambat perdamaian, memicu ketegangan, dan mengancam solusi dua negara untuk Palestina.

Disebutkan pula bahwa pada Maret 2023, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich pernah tampil di Paris dengan peta “Israel Raya” yang memasukkan Yordania ke wilayah Israel.

Selama puluhan tahun, Israel telah menduduki wilayah di Palestina, Suriah, dan Lebanon, dan menolak untuk menarik diri dari wilayah tersebut.

Israel juga menolak mendirikan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, di sepanjang perbatasan sebelum tahun 1967.

Saat ini Israel masih melancarkan serangannya di Jalur Gaza, menyalahkan kelompok perlawanan Palestina, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) atas kehancuran di sana.

Israel menganggap Operasi Banjir Al-Aqsa yang diluncurkan Hamas dan kelompok perlawanan lainnya pada 7 Oktober 2023 sebagai pembenaran bagi Israel untuk melancarkan serangan di Gaza.

Pada hari Operasi Banjir Al-Aqsa, Hamas dan kelompok lainnya membobol pertahanan Israel di perbatasan Jalur Gaza dan Israel selatan.

Setidaknya 250 orang ditahan oleh Hamas dan kelompok perlawanan lainnya pada hari peluncuran operasi tersebut.

Per 22 Juni 2025, Israel mengatakan dari sejumlah sandera yang dibebaskan, 50 di antaranya masih ditawan di Gaza.

Hamas menyatakan operasi tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap Israel yang ingin melanggengkan pendudukannya di Palestina sejak pendirian Israel pada tahun 1948 dan mengambil alih kompleks Masjid Al-Aqsa.

Tak lama setelah 7 Oktober 2023, Israel memblokir jalur masuk bantuan ke Jalur Gaza dengan tujuan untuk menekan Hamas agar menyerah.

Namun, pengepungan itu menyebabkan kelaparan yang parah di Jalur Gaza, hingga menyebabkan kematian lebih dari 101 jiwa, termasuk 80 anak-anak per 22 Juli 2025.

Israel mendapat tekanan dari internasional, hingga pada akhir Juli 2025, Israel membuka jalur masuk di perbatasan Gaza dan mengizinkan sebagian kecil bantuan untuk masuk ke Gaza, jumlah yang sangat sedikit dibandingkan kebutuhan dua juta warga Palestina di wilayah tersebut.

Bersama sekutunya, AS, Israel membentuk Gaza Humanitarian Foundation (GHF), badan khusus untuk menyalurkan bantuan makanan dan kebutuhan pokok kepada warga Palestina.

GHF berlokasi di sejumlah titik di antaranya Tal al-Sultan (Rafah, selatan Gaza), Saudi Neighborhood (kawasan permukiman di Rafah selatan), Khan Younis (tengah-selatan Gaza), dan Wadi Gaza (barat Gaza tengah, dekat Kota Gaza).

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved