Konflik Palestina Vs Israel
Microsoft Pecat 4 Karyawan yang Protes Hubungan Bisnis Perusahaan dengan Israel
Microsoft pecat empat karyawan usai protes di kantor menentang kerja sama perusahaan dengan Israel, picu kontroversi internal.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Endra Kurniawan
Microsoft Cloud adalah ekosistem layanan komputasi awan yang sangat luas dan mendalam, mencakup berbagai platform untuk penyimpanan data, produktivitas, kecerdasan buatan, dan pengembangan aplikasi.
Microsoft Cloud dikenal dengan standar keamanan tinggi, termasuk enkripsi data, kontrol akses berbasis identitas, dan kepatuhan terhadap regulasi global seperti GDPR dan ISO/IEC 27001.
Aktivis Pro-Palestina Bersuara
Di sisi lain, kelompok aktivis pro-Palestina di dalam Microsoft menyayangkan pemecatan tersebut.
Mereka menilai tindakan itu sebagai upaya membungkam kritik terhadap kebijakan perusahaan.
“Perusahaan mengirim pesan bahwa kritik terhadap dukungan korporat terhadap konflik tidak dapat diterima,” ujar salah satu aktivis, dikutip Times of Israel.
Pemecatan ini terjadi di tengah meningkatnya kontroversi mengenai kontrak teknologi antara Microsoft dan pemerintah Israel.
Tekanan dari berbagai pihak, termasuk karyawan, aktivis, serta organisasi hak asasi manusia, telah mendorong perusahaan untuk meninjau ulang keterlibatannya dalam proyek-proyek yang mendukung sistem keamanan Israel.
Meski demikian, Microsoft menegaskan langkah pemecatan ini bersifat administratif semata dan tidak terkait langsung dengan isu geopolitik.
Baca juga: Microsoft Hengkang di Pakistan Setelah 25 Tahun Beroperasi
Hingga kini, perusahaan belum memberikan pernyataan tambahan mengenai kebijakan internal yang akan diterapkan untuk menangani protes serupa di masa depan.
Kasus ini kini menjadi perhatian luas di industri teknologi global, terutama menyangkut bagaimana perusahaan besar seperti Microsoft menyeimbangkan kepentingan bisnis, kebebasan berpendapat, dan sikap mereka dalam konflik internasional yang sensitif.
Konflik Israel-Hamas meletus pada 7 Oktober 2023.
Hamas melancarkan serangan mendadak ke Israel, menewaskan lebih dari seribu warga sipil dan tentara dalam waktu kurang dari 24 jam.
Israel merespons dengan bombardir besar-besaran ke Jalur Gaza, menewaskan ribuan warga Palestina dan menghancurkan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit dan kamp pengungsi.
Di balik statistik korban, ada anak-anak yang kehilangan keluarga dan generasi yang tumbuh dalam trauma berulang.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.